Cara Menghitung Harga Ekspor EXW, FOB, dan CIF
Pembeli luar negeri minta penawaran dan kamu bingung menulis EXW, FOB, atau CIF. Ini cara menghitung harga ekspor tas anyaman 200 pcs, langkah demi langkah.
Sebuah toko di luar negeri mengirim pesan: mereka tertarik pada tas anyamanmu dan meminta penawaran untuk 200 buah, lengkap dengan harga CIF. Kamu terdiam. Harga biasanya hanya ex-workshop. Apa itu CIF, dan apa bedanya dengan FOB? Kesalahan menghitung di tahap ini bisa membuat laba hilang sebelum barang berangkat. Mari kita hitung pelan-pelan.
Apa arti tiga istilah itu
Istilah ini bagian dari Incoterms, aturan standar yang menjelaskan siapa menanggung biaya dan risiko pada tiap tahap pengiriman.
| Istilah | Penjual menanggung sampai | Artinya untukmu |
|---|---|---|
| EXW | Barang siap di tempatmu | Pembeli mengurus hampir semuanya |
| FOB | Barang di atas kapal di pelabuhan asal | Kamu urus angkut ke pelabuhan dan dokumen ekspor |
| CIF | Barang tiba di pelabuhan tujuan, termasuk asuransi | Kamu juga membayar freight dan asuransi |
Aturan lengkap ada di publikasi resmi Incoterms dan bisa diperbarui, jadi pastikan versi yang disepakati ditulis di kontrak.
Mulai dari biaya per unit
Harga ekspor dimulai dari hitungan produksi yang jujur. Misalkan:
- Biaya produksi per tas: Rp120.000.
- Kemasan ekspor per tas: Rp10.000.
- Subtotal: Rp130.000.
- Markup laba 20 persen: 130.000 x 20% = Rp26.000.
- Harga EXW: 130.000 + 26.000 = Rp156.000 per tas.
Untuk 200 tas: 156.000 x 200 = Rp31.200.000.
Ingin lebih dalam? Artikel ini baru membahas sebagian kecil. Di ebook Ekspor untuk UMKM Pemula, kamu akan mempelajari lebih jauh:
- Menguji kesiapan produk: kapasitas bersih, konsistensi mutu, kemasan, dan izin
- Memilih jalur: ekspor langsung, lewat agregator, atau kiriman kecil lewat pos dan kurir (CN untuk kiriman sampai 30 kg)
- Menyiapkan invoice, packing list, PEB, dan surat keterangan asal, serta memahami Incoterms dasar
Semua langkahnya disusun berurutan dan bisa langsung dipraktikkan. Lihat isi bukunya.
Naik ke FOB
FOB menambahkan biaya yang kamu tanggung sampai barang naik ke kapal. Contoh rekaan:
- Truk ke pelabuhan: Rp2.000.000.
- Dokumen, PEB, dan penanganan di pelabuhan: Rp1.500.000.
- Total tambahan: Rp3.500.000, atau 3.500.000 ÷ 200 = Rp17.500 per tas.
Harga FOB total: 31.200.000 + 3.500.000 = Rp34.700.000, atau Rp173.500 per tas.
Lanjut ke CIF
CIF menambah ongkos kapal (freight) dan asuransi pengiriman.
- Freight sampai pelabuhan tujuan: Rp4.500.000.
- Asuransi pengiriman: Rp300.000.
- Total tambahan: Rp4.800.000.
Harga CIF total: 34.700.000 + 4.800.000 = Rp39.500.000, atau 39.500.000 ÷ 200 = Rp197.500 per tas.
Ringkasannya:
| Level | Total | Per tas |
|---|---|---|
| EXW | Rp31.200.000 | Rp156.000 |
| FOB | Rp34.700.000 | Rp173.500 |
| CIF | Rp39.500.000 | Rp197.500 |
Angka freight dan biaya pelabuhan hanya contoh. Minta kutipan resmi dari penyedia jasa pengiriman untuk angka sebenarnya.
Konversi ke mata uang pembeli
Pembeli biasanya membayar dalam dolar atau mata uang lain. Dengan kurs ilustrasi Rp16.000 per dolar AS, harga CIF per tas menjadi 197.500 ÷ 16.000 ≈ 12,34 dolar, dan total sekitar 2.468,75 dolar.
Lindungi laba dari pergerakan kurs
Bayangkan kontrak ditandatangani dengan harga tetap 2.468,75 dolar, tetapi saat pembayaran diterima kurs menguat jadi Rp15.200 per dolar. Kamu menerima 2.468,75 x 15.200 = Rp37.525.000. Dibanding Rp39.500.000, kamu kehilangan Rp1.975.000. Total labamu dalam contoh ini hanya 26.000 x 200 = Rp5.200.000, jadi hampir 38 persen laba hilang oleh kurs saja.
Cara mengurangi risikonya: beri masa berlaku penawaran yang pendek, tambahkan penyangga kurs kecil pada harga, minta uang muka, atau minta pembayaran lebih cepat.
Uji kapasitas sebelum menjawab penawaran
Harga yang bagus tidak berarti apa-apa bila kamu tidak sanggup memenuhi pesanan. Hitung kapasitas bersih: berapa tas yang benar-benar lolos pemeriksaan mutu per minggu, bukan yang sekadar selesai dianyam. Misalkan ada lima perajin dan masing-masing menghasilkan 10 tas layak kirim per minggu. Kapasitasmu 50 tas per minggu, sehingga 200 tas butuh 4 minggu, ditambah waktu pengemasan dan pengurusan dokumen. Beri tenggat yang masuk akal, dan jangan menjanjikan pengiriman dalam dua minggu hanya karena takut kehilangan pembeli.
Cari pembeli lewat jalur yang jelas
Pesanan pertama sering datang dari kebetulan, tetapi pesanan berikutnya perlu dicari. Beberapa jalur yang bisa kamu telusuri:
- Platform promosi dagang milik pemerintah, seperti InaExport.
- Perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.
- Pameran dagang, baik langsung maupun daring.
- Program pendampingan dari dinas perdagangan atau lembaga pembiayaan ekspor.
Sebelum mengirim barang, verifikasi pembeli: cek profil usahanya, minta referensi, dan hindari pembeli yang menolak berkomunikasi lewat saluran resmi.
Siapkan dokumen dan jalur resmi
Dokumen dasar yang lazim: invoice, packing list, PEB (pemberitahuan ekspor barang), dan bila diminta, surat keterangan asal. Untuk kiriman kecil lewat pos atau kurir ada ketentuan tersendiri. Persyaratan bisa berbeda per produk dan negara tujuan, jadi tanyakan ke Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, atau kantor dinas perdagangan setempat.
Pembayaran yang aman
Untuk pesanan pertama, hindari mengirim barang penuh sebelum ada pembayaran atau jaminan. Pertimbangkan uang muka, lalu pelunasan sebelum barang dikirim. Jangan tergoda mengirim sebelum identitas pembeli diverifikasi.
Tulisan ini edukasi umum. Ketentuan ekspor dapat berubah, jadi cek situs resmi instansi terkait sebelum mengirim.
Satu saran praktis: simpan semua hitungan dalam satu lembar kerja dengan sel terpisah untuk biaya produksi, markup, biaya domestik, freight, asuransi, dan kurs. Dengan begitu, ketika pembeli meminta mengganti syarat dari CIF ke FOB, atau meminta jumlah berbeda, kamu bisa menjawab dalam hitungan menit tanpa menghitung dari nol. Perbarui angka freight setiap kali meminta kutipan baru, karena tarifnya berubah. Dan jangan ragu bertanya kepada pendamping ekspor di dinas setempat bila ada istilah yang belum kamu pahami. Bertanya di awal jauh lebih murah daripada memperbaiki kesalahan setelah barang dikirim.
Jangan lupa menyisakan ruang untuk biaya tak terduga, misalnya kemasan ulang, barang rusak, atau selisih berat saat penimbangan. Banyak eksportir pemula menyisihkan beberapa persen dari harga sebagai penyangga, lalu meninjau ulang setelah pengiriman pertama. Dari situ kamu punya data nyata untuk menawar dengan lebih percaya diri pada pesanan berikutnya.
Terakhir, sepakati dengan tertulis versi Incoterms, mata uang, batas waktu pembayaran, dan siapa yang menanggung biaya bila barang rusak di perjalanan. Perbedaan satu kata, misalnya FOB dan CIF, bisa berarti selisih jutaan rupiah. Minta pembeli mengonfirmasi penawaranmu lewat surel supaya ada bukti, dan simpan semua korespondensi sampai pembayaran lunas dan barang diterima dengan baik.
Kalau artikel ini membantu, langkah berikutnya ada di ebook Ekspor untuk UMKM Pemula.
Pelajari sampai tuntas di “Ekspor untuk UMKM Pemula”
Ada calon pembeli dari luar negeri yang bertanya, tetapi kamu belum tahu harus mulai dari mana? Lewat buku log Wulan, perajin tas anyaman mendong di Tasikmalaya yang menerima pesan...