Ebook gratis untuk kamu yang usahanya laris, tetapi uangnya terasa tidak pernah bertambah. Sering kali penyebabnya bukan rugi, melainkan uang usaha dan uang rumah tangga yang tinggal di dompet yang sama. Buku ini memisahkannya selangkah demi selangkah, mengikuti buku catatan sebulan Wulan dan Bayu di warung sembako mereka.
Yang akan kamu pelajari:
Dilengkapi lembar kas harian, lembar pembagian laba, dan daftar rutinitas mingguan yang siap disalin.
Cocok untuk pemilik warung, usaha rumahan, dan UMKM yang ingin mulai rapi mengatur uang tanpa aplikasi rumit.
Senin. Ambil Rp50.000 dari laci untuk sayur. Ambil 2 bungkus mi dan sekilo gula untuk masak. Bayu ambil Rp20.000 buat bensin.
Kamis. Bayar SPP Dinda Rp150.000 dari laci, nanti diganti (belum tahu kapan).
Minggu. Hitung-hitung, minggu ini 23 kali ambil uang atau barang dari warung. Baru sadar sebanyak itu.
Wulan tidak mengubah apa pun di bulan pertama. Ia hanya menulis setiap kali uang atau barang keluar dari warung untuk keperluan rumah. Di akhir bulan, ia menjumlahkan semuanya dan membandingkannya dengan laba warung.
Inilah jawaban dari rak yang makin kosong. Setiap bulan ada Rp1,2 juta yang keluar melebihi laba. Uang itu tidak hilang ke mana-mana; ia diambil dari modal, yaitu uang yang seharusnya dipakai untuk membeli stok lagi. Warung tetap ramai, tetapi barang yang bisa dijual sedikit demi sedikit berkurang.
Laba kotor warung sembako biasanya kecil per barang. Bila tidak tahu angkanya, ambil sepuluh barang terlaris, bandingkan harga beli dan harga jualnya, lalu pakai rata-ratanya. Untuk menghitung harga pokok dengan teliti, baca ebook gratis Hitung Modal & Harga Jual yang Untung.
Saat uang usaha dan uang rumah bercampur, ada tiga hal yang membuat kita salah membaca keadaan:
Belum ada ulasan. Jadilah yang pertama memberi bintang dan komentar.
Masuk untuk memberi bintang dan komentar.