🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Episode 1 dari 1

Canting yang Menunggu

Canting yang Menunggu · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

"Dua minggu," kata Damar. "Pemilik toko butuh dua puluh helai kain untuk koleksi akhir tahun. Saya harus memotret semuanya sebelum tanggal lima belas."

Sekar tidak mengangkat kepala dari kain di pangkuannya. Ia sedang meniup ujung canting, alat kecil dari tembaga dengan gagang bambu, lalu menggoreskannya ke kain putih dengan gerakan pelan. Malam cokelat cair mengalir dari ujungnya, membentuk garis setipis rambut yang melengkung menjadi kelopak bunga.

"Mas mau memotret kain yang belum jadi?" tanyanya.

"Kain yang sudah jadi. Dua puluh helai."

"Yang sudah jadi ada tiga." Sekar akhirnya menoleh. Matanya tenang, terlalu tenang untuk orang yang sedang ditawari pesanan besar. "Yang lain masih di tahap nembok, ada yang baru dicanting setengah, ada yang menunggu pewarnaan kedua. Batik tulis tidak bisa dua minggu, Mas. Paling cepat satu helai sebulan. Yang rumit bisa tiga bulan."

Damar menghela napas. Ia sudah menduga jawaban itu, tetapi tetap berharap. Ia fotografer produk untuk beberapa toko daring di Jakarta: sepatu, tas, kosmetik, sekarang batik. Hidupnya diukur dengan tenggat. Foto dikirim Senin, unggah Rabu, promo Jumat. Kamera, lampu kilat, latar putih yang dilipat di koper.

"Bisa dibantu orang lain?" tanyanya. "Pekerja tambahan?"

"Bisa," kata Sekar. "Tapi nanti bukan kain saya lagi."

Rumah produksi Sekar adalah bagian belakang rumah kayu di sebuah kampung batik di Pekalongan. Ruangan panjang dengan jendela-jendela besar menghadap halaman, tempat kain-kain basah dijemur di tali bambu, berkibar pelan seperti bendera warna-warni. Bau malam yang dipanaskan bercampur dengan bau pewarna dan bau tanah basah. Tiga perempuan paruh baya duduk di dingklik rendah, masing-masing menghadap gawangan, palang kayu tempat kain disampirkan. Wajan kecil berisi malam cair mendidih di atas kompor-kompor mungil di samping mereka.

Damar memotret tiga kain yang sudah jadi hari itu. Ia memasang latar putih, lampu kilat, pantulan cahaya. Hasilnya bersih, tajam, seperti foto katalog pada umumnya.

Sekar melihat hasilnya di layar kamera dan mengerutkan kening.

"Kenapa kainnya kelihatan seperti hasil cetak?" tanyanya.

"Karena lampunya rata. Supaya warnanya akurat."

"Tapi batik tulis itu bukan cuma warna, Mas." Sekar mengambil salah satu kain, membawanya ke jendela, dan membentangkannya di bawah cahaya sore. "Lihat. Garisnya tidak sempurna. Ada yang lebih tebal sedikit, ada retak halus di bagian latar. Itu tanda tangan tangan. Kalau difoto pakai lampu rata, orang tidak bisa bedakan dengan batik cap atau printing. Lalu buat apa mereka bayar mahal?"

Damar memandangi kain itu di bawah cahaya jendela. Benar. Garis-garis malam yang tidak sempurna itu terlihat hidup, seperti tulisan tangan di surat. Retakan halus pada warna latar membentuk urat-urat tipis seperti daun. Ia tidak pernah memperhatikan itu.

Ia memotret ulang. Tanpa lampu kilat. Hanya cahaya jendela, kain disampirkan di gawangan bambu, dengan wajan malam dan canting di bawahnya, sedikit buram di latar depan.

Sekar melihat hasilnya lama. Kemudian, untuk pertama kalinya, ia tersenyum.

"Nah," katanya. "Itu kain saya."

Damar menelepon pemilik toko malam itu. Bukan dua puluh helai dalam dua minggu, tetapi tiga helai sekarang, lalu satu helai setiap kali selesai. Pemilik toko marah, lalu menghitung ulang, lalu setuju setelah Damar mengirim foto di bawah cahaya jendela. Ini beda, tulisnya. Ini kelihatan mahal. Tapi kamu harus bolak-balik Pekalongan berbulan-bulan, Mar. Siapa yang bayar ongkosmu?

"Saya sendiri," jawab Damar, dan ia terkejut mendengar dirinya berkata begitu.

Maka Damar bolak-balik Pekalongan. Setiap tiga atau empat minggu sekali, naik kereta dari Jakarta, membawa kamera tanpa lampu kilat. Setiap kali datang, ada satu kain yang selesai. Kadang dua. Ia memotretnya di bawah cahaya jendela yang sama, pada jam yang sama, pukul tiga sore, ketika matahari masuk miring dan membuat garis-garis malam berkilau.

Di sela-sela itu, ia belajar menunggu. Menunggu malam di wajan meleleh dengan suhu yang tepat. Menunggu kain dicelup, dijemur, dicelup lagi. Menunggu proses melorod, ketika kain direbus untuk meluruhkan malam, dan pola yang selama berminggu-minggu tersembunyi tiba-tiba muncul, putih bersih di atas warna, seperti foto yang dicuci di kamar gelap.

Ia juga belajar tentang Sekar. Bahwa ia meneruskan usaha ibunya yang meninggal lima tahun lalu. Bahwa tiga perempuan di dingklik itu dulu murid ibunya. Bahwa Sekar menolak semua tawaran untuk beralih ke batik cap yang lebih cepat, meski utang usahanya masih ada.

"Kenapa?" tanya Damar suatu sore, ketika mereka menunggu kain di halaman kering.

Sekar mengangkat canting dari wajan, meniupnya pelan. "Karena kalau saya buru-buru, malamnya menetes. Kalau menetes, satu kain rusak. Ibu saya bilang, yang paling susah dari membatik itu bukan menggambarnya. Tapi sabarnya."

Bulan ketiga, Damar datang dengan tangan kosong. Tidak ada pesanan dari toko. Koleksi akhir tahun sudah lama lewat, dan foto-foto kain Sekar ternyata laku keras. Ia datang karena ia ingin.

Sekar sedang membentangkan kain baru di gawangan. Kain itu berbeda. Motifnya bukan bunga atau burung seperti biasanya, tetapi jendela. Jendela-jendela besar berjajar, dan di bawah salah satunya, sebuah gawangan bambu dengan kain tersampir, dan di sebelahnya, sebuah benda kecil berbentuk kotak dengan lensa.

"Itu kamera?" tanya Damar.

"Itu kamera," kata Sekar tanpa menoleh. Telinganya memerah. "Saya mulai mencantingnya bulan lalu. Belum selesai. Masih harus ditembok, dicelup dua kali, dilorod. Mungkin dua bulan lagi."

Damar berdiri di belakangnya lama sekali, memandangi garis-garis malam yang tipis dan hati-hati itu. Garis yang sedikit lebih tebal di beberapa bagian. Tanda tangan sebuah tangan.

"Ibu saya di Solo," katanya akhirnya, suaranya tidak setenang biasanya, "sudah lama minta dibuatkan kain batik tulis. Untuk acara keluarga. Tahun depan."

Sekar meletakkan cantingnya di tepi wajan. "Acara apa?"

"Acara lamaran," kata Damar. "Kalau perajinnya mau. Saya tidak buru-buru. Saya bisa menunggu, selama apa pun malamnya perlu kering."

Sekar tidak menjawab untuk waktu yang lama. Di luar, kain-kain di tali bambu berkibar pelan. Salah satu perempuan di dingklik berhenti mencanting dan pura-pura sibuk dengan kompornya. Yang lain menahan tawa.

Kemudian Sekar mengambil cantingnya lagi, meniup ujungnya, dan mulai menggores di sudut kain yang masih kosong. Garis tipis. Lengkung. Dua lengkung.

Sebuah hati kecil, di samping kamera.

"Dua bulan lagi," katanya pelan. "Jangan datang terlambat untuk motretnya."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Suka ceritanya?

Bagikan ke teman yang mungkin juga suka.

Dari penerbit cerita ini

Foto Produk Pakai HP yang Bikin Orang Berhenti Scroll

Ebook gratis untuk penjual daring yang fotonya gelap, buram, atau kalah menarik dari toko sebelah. Di marketplace, pembeli tidak bisa memegang produkmu; yang mereka punya hanya fot...

Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu