🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 4

Dua Puluh Kotak Pertama

Dapur yang Tidak Pernah Tidur · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Oven Sri hanya oven tangkring, kotak seng yang ditaruh di atas kompor gas, hadiah pernikahan dua puluh tahun lalu. Pintunya harus diganjal sendok supaya rapat, dan termometernya sudah lama mati, jadi Sri mengukur panas dengan cara ibunya: memasukkan tangan sebentar dan menghitung sampai lima.

Untuk dua puluh kotak, ia butuh dua puluh kue sus, dua puluh risoles, dan dua puluh potong bolu. Di atas kertas, itu tidak banyak. Di dapur ukuran dua kali tiga meter dengan satu kompor dua tungku, itu seperti memindahkan sungai pakai gayung.

Jumat sore ia mulai dengan kulit sus. Adonan pertama gagal: kulitnya mengembang lalu kempis seperti balon bocor, karena ia membuka pintu oven terlalu cepat. Adonan kedua lebih baik. Adonan ketiga sempurna, kulitnya kering dan berongga, dan Sri hampir menangis saat mengetuk salah satunya dan bunyinya nyaring seperti kayu.

"Bunyinya bagus," kata Mas Bambang dari ambang pintu.

Sri menoleh. Suaminya berdiri dengan tangan di saku celana pendek, wajahnya canggung, seperti tamu di rumah sendiri.

"Mau bantu?"

"Aku nggak bisa masak."

"Bisa lipat kotak, kan?"

Mas Bambang duduk di kursi plastik dan mulai melipat kotak snack putih yang dibeli Sri di toko plastik pagi tadi. Lipatan pertamanya miring. Lipatan kedua lebih rapi. Pada kotak kesepuluh, ia sudah menemukan cara melipat dua sekaligus, menumpuknya rapi per lima, dan menyusunnya di meja seperti barisan di lini produksi.

"Kebiasaan," katanya ketika melihat Sri memperhatikan. "Dua puluh tiga tahun ngatur orang lipat baju."

Pukul sebelas malam, isian vla sudah dingin, risoles sudah digulung dan dibalut tepung roti, dan bolu pandan sudah dikukus dan didinginkan di rak. Raka tertidur di sofa dengan sisa vla di ujung bibir. Nadia tidak turun sama sekali.


Sabtu pagi, Sri bangun pukul tiga untuk menggoreng risoles supaya masih hangat. Mas Bambang mengisi kotak satu per satu: bolu di kiri, sus di tengah, risoles di kanan, tisu di atas, tutup, lalu stiker kecil yang Sri tulis tangan semalam: Dapur Bu Sri. Huruf-hurufnya agak miring. Sri tidak sempat memikirkan nama lain.

Pukul delapan, Mas Bambang mengantar dua puluh kotak itu dengan motor, ditumpuk dalam kardus mi instan yang dilapisi kain. Sri berdiri di pagar sampai motor itu menghilang di belokan, lalu kembali ke dapur yang berantakan seperti habis kemalingan.

Pukul sebelas, ponselnya mulai berbunyi.

Bu, kuenya habis! Sus-nya juara, vla-nya tidak terlalu manis.

Ini Bu Sri ibunya Raka ya? Saya Bu Endah, guru kelas 6. Minta nomornya untuk acara pengajian bulan depan, kira-kira 40 kotak.

Bu, saya istri Pak Lurah. Bolunya mengingatkan saya pada bolu ibu saya di Pekalongan dulu. Kalau ada acara kelurahan saya kabari ya.

Sri membaca pesan-pesan itu sambil duduk di lantai dapur, punggungnya bersandar ke kulkas. Mas Bambang pulang dan duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa menit mereka hanya duduk di sana, di antara tumpukan loyang dan baskom, seperti dua orang yang baru selamat dari banjir.

"Sri," kata suaminya akhirnya. "Bu Win bayar sisanya. Seratus lima puluh. Ini."

Ia menyerahkan tiga lembar uang lima puluh ribuan. Sri memegangnya. Uangnya tidak banyak, tapi rasanya berat.


Dalam seminggu, pesanan datang dari arah yang tidak Sri duga. Empat puluh kotak untuk pengajian. Dua loyang bolu untuk ulang tahun. Sepuluh kotak untuk rapat RW. Seorang ibu dari perumahan sebelah memesan kue sus untuk dijual lagi di kantin kantornya.

Sri mencatat semuanya di buku tulis Raka yang masih kosong separuh. Ia membuat kolom: nama, tanggal, jumlah, DP, lunas. Ia mulai belanja di grosir bahan kue dekat Pasar Johar, bukan di warung, setelah menyadari harga terigu dan mentega di sana jauh lebih murah kalau membeli sekarung dan sekotak.

Mas Bambang masih mengirim lamaran setiap pagi. Sorenya ia melipat kotak, mengantar pesanan, dan mulai mencatat jam berapa setiap kue masuk dan keluar oven. Sri pura-pura tidak memperhatikan bahwa suaminya mulai menggambar tabel di kertas folio, dengan garis yang dibuat pakai penggaris.

Lalu, Kamis sore, Nadia pulang sekolah dan langsung naik ke kamar tanpa mengucap salam.

Sri menyusul. Pintu kamar Nadia setengah terbuka. Anak itu duduk di kasur, menatap ponselnya dengan wajah merah.

"Kenapa, Nduk?"

Nadia memutar layar ke arah ibunya. Sebuah unggahan di media sosial, dari akun Tika, teman sekelasnya. Foto kotak snack putih dengan stiker Dapur Bu Sri yang miring, dan tulisan di bawahnya: Kue sus terenak se-Semarang, buatan ibunya @nadia. Nad, besok bawain lagi dong!

Di bawahnya, belasan komentar. Sebagian memuji. Sebagian menulis wkwk dan bukan ibunya Nadia yang jualan di depan gang itu kan. Seseorang menulis bapaknya juga nganter pakai motor, aku lihat.

"Mereka cuma bercanda, Nduk."

"Ibu nggak ngerti." Suara Nadia pecah. "Kemarin Salsa nanya bapak kerja di mana sekarang. Aku bilang lagi cuti. Sekarang semua orang tahu."

Sri duduk di tepi kasur. Ia ingin memeluk anaknya, tapi Nadia menarik lututnya ke dada, membuat jarak yang tidak bisa dilewati.

"Bapakmu nggak salah apa-apa," kata Sri pelan. "Pabriknya yang tutup."

"Aku tahu." Nadia menyeka mata dengan punggung tangan. "Tapi kenapa harus ketahuan kayak gini?"

Sri tidak punya jawaban. Ia turun ke dapur dan berdiri lama di depan oven tangkring yang masih hangat.

Bel pagar berbunyi.

Di depan pagar berdiri seorang perempuan berusia lima puluhan, berkerudung krem, membawa toples kaca berisi kue kering. Sri mengenalnya. Semua orang di kampung mengenalnya. Bu Hartini, pemilik Hartini Cake di ujung jalan, toko kue yang sudah berdiri sejak Nadia masih bayi, tempat semua orang di kampung itu memesan kue untuk setiap hajatan selama lima belas tahun.

Bu Hartini tersenyum, tapi matanya tidak.

"Sore, Bu Sri. Ini nastar, buat anak-anak." Ia menyerahkan toples itu melewati pagar. "Kita perlu bicara sebentar. Soal harga."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Kue & Katering Pre-order

Masakanmu sering dipesan tetangga, tapi kamu tidak pernah tahu persis berapa untungnya? Buku ini mengubah dapur rumahan menjadi usaha kue dan katering yang rapi dengan satu sistem...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu