🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Azan dari Darat

Gelas Kedua di Meja Dekat Jendela · 23 Okt 2026 · 6 menit baca

Kapal Rusli bercat hijau pucat dengan nama yang ditulis tangan di lambungnya: Sri Bulan. Bu Yuyun hafal bentuknya karena tiga minggu terakhir kapal itu selalu ia cari dengan mata setiap pagi, seperti orang mencari jemuran sendiri di antara jemuran tetangga.

Pagi itu, Selasa, langit bersih dan laut tenang seperti kaca minyak. Pak Amri sudah duduk di meja dekat jendela sejak pukul enam kurang lima, radio genggam berdiri di samping gelasnya.

"Dua kopi, Yun. Satu biasa, satu gulanya sedikit saja."

"Rusli melaut hari ini, Pak?"

"Melaut. Tadi subuh sudah kasih kabar. Katanya mau ke rumpon dekat, siang sudah pulang."

Bu Yuyun mengangguk dan menyeduh kopi. Sejak badai bulan lalu, kebiasaan di warungnya sedikit berubah. Pada hari Rusli melaut, gelas kedua tetap dingin di depan kursi kosong. Pada hari Jumat, kursi itu diisi Rusli sendiri, yang minum kopinya dalam tiga tegukan lalu minta tambah pisang goreng dua kali. Kampung sudah berhenti menebak. Bang Udin bahkan ikut-ikutan memesan dua gelas sekali waktu, sampai Mak Ros bertanya untuk siapa gelas keduanya, dan Bang Udin menjawab, "Untuk saya juga, Mak. Haus."

Semuanya terasa sudah selesai. Itulah sebabnya Bu Yuyun kaget pada dirinya sendiri ketika, pukul setengah tujuh pagi itu, ia berjalan ke tepi muara untuk membuang ampas kopi dan melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.

Sri Bulan masih tertambat di tiang kayu dekat gudang es.

Ia mengucek mata. Hijau pucat. Nama ditulis tangan. Ban bekas tergantung di lambung kiri sebagai bantalan. Tidak salah lagi.


Bu Yuyun kembali ke warung dengan ember kosong dan kepala penuh.

Di meja dekat jendela, radio Pak Amri berderak. Suara Rusli keluar, berat dan serak seperti biasa.

"Amri. Aman di sini. Ombak kecil. Ikan belum mau naik."

Pak Amri menekan tombol. "Sabar, Rus. Tongkol itu seperti menantu, datangnya kalau dia mau."

Tawa Rusli terdengar pendek di radio, lalu desis.

Bu Yuyun berdiri di balik etalase gorengan, memegang sendok sayur, dan menyadari tangannya dingin. Kapal itu di muara. Suara Rusli bilang ia di laut. Salah satunya bohong, dan kapal tidak bisa bohong.

"Kenapa, Yun? Pisangnya gosong?" tanya Mak Ros, yang baru datang membawa keranjang lepat titipan istri Pak Amri.

"Tidak, Mak." Bu Yuyun buru-buru membalik pisang. Ia tidak mau ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya sebelum ia yakin. Di kampung ini, satu kalimat yang salah bisa berenang lebih cepat daripada ikan.


Ia memutuskan memperhatikan, seperti dulu.

Hari Kamis, Rusli melaut lagi menurut radio. Bu Yuyun menitipkan warung kepada keponakannya, Tari, dengan alasan mau beli gas, lalu berjalan ke muara. Sri Bulan tidak ada di tambatan. Ia menghela napas lega dan merasa malu pada kecurigaannya sendiri.

Lalu ia bertanya kepada Wak Leman, penjaga gudang es yang sedang mengikir pisau.

"Kapal Rusli berangkat jam berapa tadi, Wak?"

"Subuh. Tapi bukan ke laut." Wak Leman menunjuk dengan dagunya ke arah hulu, ke sungai yang berkelok masuk ke kampung sebelah. "Ke atas. Sudah tiga minggu begitu. Pelan-pelan, mesinnya dikecilkan, seperti orang takut ketahuan."

"Ke atas mau apa?"

Wak Leman mengangkat bahu. "Saya penjaga es, Yun, bukan penjaga Rusli."


Pada hari Jumat, Rusli datang ke warung seperti biasa. Ia duduk di kursi yang dulu kosong, menepuk bahu Pak Amri, minum kopinya dalam tiga tegukan. Bu Yuyun mengantar pisang goreng dan sengaja berlama-lama mengelap meja di sebelah mereka.

Yang pertama ia perhatikan adalah kuku Rusli. Di bawah kuku-kuku yang tebal itu ada serbuk halus berwarna kuning pucat, bukan sisik ikan. Serbuk kayu.

Yang kedua adalah bau. Rusli biasanya membawa bau solar dan garam. Hari itu ada bau lain yang tajam dan manis, bau yang Bu Yuyun kenal dari bengkel perahu di ujung kampung: dempul dan cat kayu.

Yang ketiga adalah pertanyaan. Ketika Pak Amri pergi ke belakang untuk mencuci tangan, Rusli memanggil Bu Yuyun dengan suara direndahkan.

"Yun, kursi warungmu ini tingginya berapa?"

"Kursi? Mana saya tahu, Bang. Kenapa?"

"Tidak apa-apa." Rusli mengukur kursi Pak Amri dengan jengkalnya, cepat sekali, lalu duduk kembali ketika Pak Amri muncul dari balik tirai. Wajahnya datar seperti tidak ada apa-apa.

Bu Yuyun kembali ke dapur dan berdiri lama di depan kompor yang tidak menyala.

Serbuk kayu. Dempul. Kursi. Kapal yang pergi ke hulu, bukan ke laut. Suara di radio yang mengaku diterpa ombak.

Ia belum bisa menyusunnya. Tetapi ia tahu satu hal: Rusli sedang berbohong kepada satu-satunya orang yang setiap pagi memesankan kopi untuknya.


Bu Yuyun menimbang selama dua hari apakah ia harus bicara. Pada akhirnya, ia tidak perlu memutuskan apa-apa.

Senin pagi, laut kembali tenang. Pak Amri datang, memesan dua kopi, meletakkan radio. Menjelang siang, warung ramai oleh nelayan yang baru pulang. Bang Udin sedang berdebat dengan Mak Ros soal harga cabai ketika radio di meja dekat jendela berderak.

"Amri. Masih di laut. Agak jauh hari ini. Mungkin sore baru masuk."

Pak Amri mengangkat radio ke telinga, hendak menjawab.

Lalu, dari pengeras suara kecil itu, di belakang suara Rusli, terdengar sesuatu yang membuat seluruh warung mendadak diam.

Azan zuhur.

Bukan azan sembarangan. Azan dengan pengeras suara yang pecah di nada tinggi, yang serak di ujung hayya 'alash shalah, seperti kaleng dipukul. Semua orang di kampung itu kenal suara pengeras itu. Itu pengeras suara Masjid Nurul Bahri di kampung sebelah, yang sudah dua tahun dijanjikan akan diganti tetapi tidak pernah diganti.

Azan itu tidak mungkin terdengar dari tengah laut.

Radio berdesis. Rusli rupanya sadar, karena sambungan langsung diputus.

Pak Amri menurunkan radio pelan-pelan. Bang Udin dan Mak Ros berhenti berdebat. Tari berhenti mengaduk teh. Bu Yuyun melihat wajah Pak Amri berubah, bukan menjadi marah, tetapi menjadi sesuatu yang lebih buruk: kosong, seperti meja yang baru dibersihkan.

"Dia di darat," kata Pak Amri. Suaranya hampir tidak terdengar. "Dia bilang di laut, tapi dia di darat."

"Pak—" Bu Yuyun melangkah mendekat.

Pak Amri berdiri. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke warung itu, ia lupa meraba tasnya. Ia lupa mengangguk. Ia lupa membayar.

Ia berjalan keluar, menyeret kakinya yang dulu patah, ke arah jalan tanah yang menuju kampung sebelah, meninggalkan dua gelas di meja dekat jendela. Gelasnya sendiri belum habis.

Bu Yuyun memandang punggungnya, lalu memandang gelas kedua yang dingin, lalu melepas celemeknya.

"Tari, jaga warung."

"Bibi mau ke mana?"

Bu Yuyun sudah di ambang pintu. "Ke tempat suara azan itu. Sebelum dua orang tua itu saling patah lagi, dan kali ini bukan kakinya."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Minuman Kekinian dari Rumah

Es kopi susu, thai tea, dan matcha latte bisa dijual dari teras rumah dengan modal kecil. Agar rasanya selalu sama dan untungnya jelas, kamu butuh resep bertakaran pasti, HPP yang...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu