🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Batu Tanpa Nama

Jalan Kaki ke Nyadran · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Ingkung ayam di tampah itu masih mengepul ketika Damar melihat kakeknya membagi bunga menjadi dua.

Kenduri Nyadran digelar di bawah pohon kamboja, di bukit kecil pinggir desa. Puluhan tampah berjajar di atas tikar pandan: nasi tumpeng, ingkung, apem, ketan, pisang raja, sayur lombok ijo yang baunya membuat perut Damar berbunyi tidak sopan. Pak Modin membacakan doa panjang. Warga menunduk. Anak-anak kecil mencuri pandang ke arah apem.

Damar duduk di samping kakeknya, kakinya masih pegal dari empat puluh kilo kemarin, tapi dadanya ringan. Di sakunya, ponsel yang kemarin pagi membawa kabar baik sekarang diam, dan ia membiarkannya diam.

Mbah Karto memegang kantong plastik berisi bunga kenanga dan mawar sisa kemarin. Dengan jari-jarinya yang kaku, ia memisahkan bunga itu menjadi dua genggam. Satu genggam besar. Satu genggam kecil.

Setelah doa selesai, ia berdiri dan berjalan ke makam Mbah Putri. Genggaman besar ia taburkan di atas tanah yang kemarin disiram Damar.

Genggaman kecil ia bawa ke sebelahnya, ke sebuah batu kapur sebesar kepala kambing yang setengah terbenam di tanah, ditumbuhi lumut di satu sisi. Tidak ada tulisan. Tidak ada nama. Kemarin Damar mengira itu batu biasa, dan ia hampir menyingkirkannya saat mencabuti rumput.

Mbah Karto menaburkan bunga itu di atas batu, pelan, satu demi satu, seperti menaburkan garam ke masakan yang harus pas rasanya.


"Mbah, itu makam siapa?"

"Batu."

"Batu kok dikasih bunga?"

Mbah Karto tidak menjawab. Ia mengambil apem dari tampah, membelahnya dua, dan memberikan separuh kepada Damar. Percakapan selesai, dengan cara yang sudah Damar kenal sejak kecil.

Tapi Damar insinyur. Atau setidaknya, calon insinyur yang baru diterima kerja. Ia dilatih empat tahun untuk tidak puas dengan jawaban yang tidak masuk akal.

Ia bertanya kepada Bulik Ning, adik bapaknya yang tinggal di desa. Bulik Ning sedang membungkus sisa nasi kenduri dengan daun pisang, dan tangannya berhenti sebentar.

"Tanya Mbahmu," katanya.

"Sudah. Katanya batu."

"Ya berarti batu." Bulik Ning tersenyum, tapi senyumnya cepat sekali hilang. "Wis, bawa ini ke rumah. Nanti dimakan di jalan."


Rencana pulang dibuat malam itu, dan tentu saja Mbah Karto tidak mau naik bus.

"Pulangnya jalan juga, Mbah?"

"Lha piye. Berangkat jalan, pulang naik bus. Itu namanya setengah."

Damar menghitung. Hari ini Jumat. Penandatanganan kontrak di Semarang hari Senin pukul sembilan. Kalau mereka berjalan Sabtu dan Minggu, sampai Yogyakarta Minggu sore, ia masih bisa naik travel malam ke Semarang. Pas. Sangat pas. Tidak ada ruang untuk satu kesalahan pun.

Ia ingin bilang tidak. Ia ingin bilang, Mbah, saya baru diterima kerja, jangan dibuat sulit. Tapi kemudian ia ingat kalimat kakeknya di bawah pohon jati, surat tidak datang lebih cepat kalau ditunggui, dan ia merasa malu bahkan untuk memikirkannya.

"Nggih, Mbah. Jalan."


Mereka berangkat Sabtu subuh. Kabut tebal menyelimuti ladang singkong. Embun membasahi sandal.

Dua jam pertama, semuanya seperti hari berangkat. Langkah pelan. Sapaan di setiap warung. Mbah Karto bercerita tentang pohon asam besar yang dulu ada di tikungan, tempat orang menunggu andong.

Lalu Damar mulai memperhatikan sesuatu.

Kakeknya berhenti lebih sering. Bukan untuk menyapa orang. Ia berhenti di tempat yang tidak ada siapa-siapa, berdiri sebentar dengan satu tangan di pinggang, lalu berjalan lagi. Kaki kanannya menapak lebih hati-hati daripada kaki kiri. Di balik kain sarung yang ia selempangkan, lutut kanannya tampak lebih besar.

"Mbah, lututnya kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Bengkak itu, Mbah."

"Lutut tujuh puluh empat tahun ya begini. Lututmu nanti juga."

Damar berhenti di depannya, menghalangi jalan. "Mbah. Kita naik bus dari Wonosari, ya. Saya yang bilang ke Bapak, biar Mbah tidak dimarahi."

Mbah Karto menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, ada sesuatu yang keras di mata tua itu.

"Le," katanya pelan. "Ini perjalanan terakhirku. Biarkan aku menyelesaikannya dengan kakiku sendiri."

Damar tidak bisa menjawab. Kalimat terakhir itu menggantung di udara kabut seperti asap kemenyan.


Mereka menginap lagi di rumah Pak Wiryo di Gading. Lutut Mbah Karto dikompres air hangat dan parutan kencur oleh istri Pak Wiryo, sementara kakeknya pura-pura tidak kesakitan dan malah menceritakan lelucon lama tentang kepala desa yang takut ayam.

Setelah Mbah Karto tertidur di ruang tamu, Pak Wiryo mengajak Damar duduk di lincak bambu di teras. Ia menyalakan rokok klobot. Jangkrik bersahut-sahutan di ladang gelap.

"Kamu tanya soal batu itu," kata Pak Wiryo. Ternyata kabar di desa bisa berjalan lebih cepat dari kaki.

Damar mengangguk.

"Tahun tujuh puluh lima," kata Pak Wiryo, menatap gelap. "Musim hujan. Simbahmu masih muda, belum ada tiga puluh. Anak pertamanya panas tinggi, kejang-kejang tengah malam. Umur dua tahun. Waktu itu belum ada jalan aspal. Mantri terdekat di Wonosari."

Asap klobot naik pelan.

"Mbahmu gendong anak itu. Lari. Malam-malam, hujan, lewat jalan setapak, lewat kali. Simbokmu menyusul di belakang bawa obor. Aku ikut, waktu itu aku masih bujang. Mbahmu itu larinya seperti dikejar setan. Tidak berhenti. Sampai di kali, jembatan bambunya licin, dia terpeleset. Anaknya tidak lepas, dia peluk terus. Tapi lututnya pecah kena batu."

Damar memandang ke dalam rumah, ke sosok kakeknya yang tidur dengan kaki kanan diganjal bantal.

"Sampai di Wonosari subuh," lanjut Pak Wiryo. "Mantrinya bilang sudah terlambat."

Jangkrik berhenti sebentar, lalu mulai lagi.

"Sejak itu," kata Pak Wiryo, "Mbahmu tidak pernah lari. Ke mana-mana pelan. Orang bilang dia sabar. Aku tahu dia bukan sabar. Dia cuma tidak mau jatuh lagi."

Damar tidak sadar ia menangis sampai Pak Wiryo menyodorkan sarung untuk mengelap muka.

"Batu itu," bisik Damar. "Kenapa tidak dikasih nama?"

Dari dalam rumah, dari ruang tamu yang gelap, terdengar suara Mbah Karto. Tidak tidur. Mungkin tidak pernah tidur.

"Karena aku tidak sanggup menulis namanya, Le," kata kakeknya. "Namanya sama dengan namamu."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

CV ATS & Lolos Wawancara Kerja

Banyak lamaran gagal bukan karena pelamarnya tidak mampu, melainkan karena CV-nya tidak terbaca sistem rekrutmen, pencapaiannya ditulis sebagai daftar tugas, atau jawaban wawancara...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu