Angka yang Paling Mengilap
Salsa tidak mengumumkan kehilangan yang kedua. Ia hanya menulis di buku kasnya, dengan pensil supaya bisa dihapus: Jumat, kurang 50.000. Ditemukan kertas P. 50. Lalu ia menunjukkannya kepada Intan di kantin, di balik mangkuk mi celor yang mengepul.
"Kalau Senin uangnya kembali lagi," kata Intan, "berarti pelakunya bukan pencuri."
"Atau pencuri yang punya rasa bersalah."
"Pencuri yang punya rasa bersalah tiap minggu itu namanya peminjam, Sal."
Salsa terdiam. Ia belum pernah memikirkannya seperti itu.
Mereka memutuskan menyelidiki dengan cara yang paling membosankan tapi paling jujur: mencatat. Siapa saja yang masih di kelas Kamis sore setelah kas dihitung? Siapa yang datang paling pagi pada hari Jumat? Siapa yang tahu, atau mungkin tahu, kode 0811?
Daftar piket Kamis sore ditempel di papan kelas: Fajar, Putri, dan Dodi. Mereka menyapu dan mengepel setelah bel pulang, biasanya sampai pukul tiga. Hari Jumat, menurut Pak Udin si penjaga sekolah, yang paling sering datang pertama adalah Fajar. "Anak itu sudah di depan gerbang pukul enam kurang, Dek. Kadang bawa kantong plastik besar, katanya titipan ibunya ke kantin."
Nama Fajar membuat Salsa tidak nyaman. Fajar duduk di bangku paling depan, dekat lemari kelas, dan hampir tidak pernah bicara kecuali ditanya guru. Ia selalu membayar iuran tepat waktu, kadang dengan uang receh yang dihitung pelan-pelan di atas meja Salsa.
Tetapi sebelum Salsa sempat memikirkan Fajar lebih jauh, kelas sudah menemukan tersangkanya sendiri.
"Arief tuh," bisik Dodi pada jam istirahat, cukup keras untuk didengar separuh kelas. "Sepatunya baru. Merek mahal. Ketua kelas, tahu kode gembok. Cocok, kan?"
Gosip di kelas menyebar lebih cepat daripada aroma pempek goreng di kantin. Pada jam pelajaran matematika, Arief sudah menerima tiga potong kertas bertuliskan "balikin duit kas". Pada jam pulang, ia menghampiri meja Salsa dengan wajah merah.
"Kau juga percaya aku ambil uang kas?"
"Aku tidak bilang apa-apa," kata Salsa jujur.
"Sepatu ini hadiah lomba debat bahasa Inggris tingkat kota. Ada sertifikatnya. Kau mau lihat?" Suaranya bergetar. "Aku jadi ketua kelas bukan karena mau, tahu. Sama kayak kau."
Salsa merasa wajahnya panas. "Aku percaya, Rief. Sungguh."
Arief menatapnya lama, lalu mengangguk dan pergi. Salsa tahu, gosip seperti ini tidak akan berhenti hanya karena ia percaya. Ia harus menemukan jawaban sebelum Arief dikucilkan untuk sesuatu yang tidak ia lakukan.
Jumat sore itu, setelah kelas kosong, Salsa minta izin kepada Pak Udin untuk tinggal setengah jam lagi. Ia duduk di bangku paling depan dengan kaleng kas di pangkuan, di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. Hujan mulai turun di luar, menimbulkan bunyi gemuruh di atap seng kantin. Ia memutar-mutar gembok angka itu di tangan, memperhatikannya dari dekat, dari setiap sudut.
Lalu ia melihatnya.
Gembok itu punya empat roda angka, masing-masing dari 0 sampai 9. Catnya perak, tetapi di beberapa angka catnya sudah terkikis, memperlihatkan logam yang lebih terang dan mengilap. Angka 0. Angka 8. Angka 1. Angka-angka yang paling sering disentuh jempol.
Angka-angka lain masih kusam.
"Siapa pun yang memperhatikan," gumam Salsa, "bisa menebak kodenya hanya dari tiga angka yang paling mengilap. Lalu tinggal mencoba urutannya."
Ia membayangkan dirinya sendiri setiap Kamis sore, membuka kaleng di meja paling depan, memutar angka di depan siapa saja. Ia tidak pernah menutupinya dengan tangan. Ia tidak pernah berpikir perlu.
Dan bangku yang paling dekat dengan meja paling depan adalah bangku Fajar.
Salsa membuka kaleng. Di dasar kaleng, di bawah kertas karton pelapis yang ia pasang supaya koin tidak berisik, ia menemukan sesuatu yang selama ini terlewat. Penjepit plastik kecil berwarna hijau, jenis yang biasa dipakai untuk menjepit kantong plastik cuko. Di penjepit itu ada stiker bulat yang sudah setengah terkelupas, tulisannya masih terbaca:
Pempek Bu Ani, Lorong Gotong Royong.
Ia mengembalikan kaleng ke lemari, menguncinya, dan memutar angka gembok ke posisi acak seperti biasa. Kali ini ia sengaja tidak mengubah apa pun. Kalau dugaannya benar, uang itu akan kembali Senin pagi, dan ia ingin tahu siapa yang membawanya.
Di rumah, Salsa mengambil ponsel dan mengetik nama itu di grup kelas, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Ia tidak mau ada tuduhan kedua sebelum ia yakin. Sebagai gantinya, ia mengirim pesan pribadi kepada Intan.
Kau tahu siapa nama ibunya Fajar?
Balasan Intan datang setelah lima menit.
Bu Ani. Jualan pempek di lorong dekat Pasar Cinde. Kenapa?
Salsa menatap layar, lalu menatap penjepit hijau di telapak tangannya. Ia teringat Fajar yang selalu membayar iuran dengan uang receh. Fajar yang datang pukul enam kurang membawa kantong plastik besar. Fajar yang bangkunya paling dekat dengan gembok yang angka-angkanya paling mengilap.
Ia juga teringat kertas kecil bertuliskan P. 50 yang pernah ia buang karena mengira itu catatannya sendiri.
P bukan untuk pengeluaran.
Salsa menulis satu kalimat di buku kasnya, lalu menutupnya: Senin, pukul enam. Tunggu di kelas.
Senin pagi itu, Palembang masih gelap dan basah oleh sisa hujan semalam ketika Salsa masuk ke kelas yang kosong. Ia duduk di bangku paling belakang, mematikan lampu, dan menunggu.
Pukul enam kurang lima, pintu kelas berderit.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!