🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Episode 1 dari 2

Amplop Cokelat di Loker 214

Kardus Terakhir dari Batam · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Amplop itu terselip di loker nomor 214, di antara helm pabrik dan sepasang sepatu karet yang sudah retak di bagian tumit. Cokelat, berlogo perusahaan, tidak tebal. Yusuf tahu isinya sebelum membukanya, karena sejak pagi setengah orang di jalur produksi B menerima amplop yang sama dan tidak ada yang tertawa di jam istirahat.

Ia membukanya di parkiran motor, di bawah pohon ketapang yang daunnya selalu mengotori jok. Surat pemberitahuan pemutusan hubungan kerja karena efisiensi, rincian pesangon, ucapan terima kasih atas dedikasi selama dua belas tahun. Kalimat terakhir itu dicetak dengan huruf yang sama dengan kalimat lainnya, seolah dedikasi dua belas tahun bisa dibuat massal seperti papan sirkuit yang selama ini ia periksa di bawah kaca pembesar.

"Kau juga, Suf?" Rian, teman satu kosnya, muncul sambil menenteng amplop serupa yang sudah lecek karena digenggam terlalu keras.

"Aku juga."

Mereka duduk di jok motor masing-masing tanpa bicara. Di seberang jalan, bus karyawan sif malam berhenti dan menurunkan orang-orang yang belum tahu apa-apa.

Malam itu kamar kos tiga kali empat meter di Muka Kuning terasa lebih sempit dari biasanya. Yusuf menghitung ulang angka di surat itu dengan kalkulator ponsel, lalu menghitung lagi, berharap ada nol yang terlewat. Tidak ada. Pesangonnya cukup untuk hidup beberapa bulan di Batam kalau ia berhemat, atau cukup untuk pulang dan memulai sesuatu kalau ia berani. Dua kalimat itu berputar di kepalanya seperti kipas angin yang sudah oleng.

Ibunya menelepon pukul sembilan, seperti setiap malam Jumat.

"Sudah makan, Nak?"

"Sudah, Inaq." Belum.

"Kerja lancar?"

Yusuf menatap amplop cokelat di atas kasur. "Lancar, Inaq."

Ia menutup telepon dengan perasaan seperti baru mencuri sesuatu dari ibunya sendiri.


Di ujung gang kos ada warung nasi padang milik Bang Udin, lelaki Pariaman yang sudah lebih lama di Batam daripada Yusuf. Warungnya sempit, kipasnya berderit, tetapi gulai tunjangnya membuat buruh tiga pabrik rela antre. Yusuf makan di sana hampir setiap malam selama dua belas tahun, dan Bang Udin hafal pesanannya: nasi setengah, ayam pop, sambal hijau dipisah.

Malam itu Bang Udin meletakkan piring di depannya, lalu duduk di seberang tanpa ditanya.

"Kau kena juga."

Itu bukan pertanyaan. Kabar di Muka Kuning menyebar lebih cepat dari asap sate.

"Kena, Bang."

"Mau ke mana sekarang?"

"Belum tahu. Mungkin cari pabrik lain. Atau..." Yusuf memainkan sendok. "Atau pulang."

"Pulang ke mana kau? Lombok?"

"Sembalun, Bang. Di kaki Rinjani."

Bang Udin mengangguk pelan, seperti sedang menimbang cabai. "Kenapa mukamu macam orang mau dihukum kalau sebut pulang?"

Yusuf tidak menjawab. Bagaimana menjelaskan bahwa di desanya, orang yang merantau dua belas tahun seharusnya pulang membawa motor baru, rumah yang dikeramik, atau setidaknya cerita tentang jabatan. Ia akan pulang membawa surat PHK dan tabungan yang tidak seberapa. Ayahnya, Amaq, dulu tidak setuju ia merantau. "Tanah kita cukup untuk makan," kata Amaq waktu itu. Yusuf menjawab bahwa ia tidak mau sekadar cukup makan. Dua belas tahun kemudian ia akan pulang dan membuktikan bahwa Amaq benar.

"Aku dulu juga pernah pulang," kata Bang Udin. "Tahun sembilan delapan. Toko kain tempat aku kerja di Tanah Abang tutup. Aku pulang ke Pariaman dengan satu tas. Malunya minta ampun."

"Terus?"

"Terus amak aku masak gulai, dan aku makan tiga piring. Di dapur itu aku belajar resep yang sekarang kau makan." Ia mengetuk meja. "Pulang bukan kalah, Suf. Pulang itu ambil ancang-ancang. Orang lompat jauh pun mundur dulu."

Yusuf tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.

"Tapi kalau pulang," Bang Udin menambahkan sambil berdiri, "jangan naik pesawat."

"Kenapa?"

"Terlalu cepat. Orang yang baru jatuh perlu waktu buat berdiri. Naik kapal, naik bus. Biar badanmu pulang pelan-pelan, biar kepalamu sempat menyusul."


Rian memutuskan bertahan di Batam dan melamar ke galangan kapal di Tanjung Uncang. Yusuf memutuskan pulang. Mereka membagi isi kamar kos seperti pasangan bercerai yang masih berteman: rice cooker untuk Rian, kipas angin oleng untuk Yusuf, galon dan ember dibiarkan untuk penghuni berikutnya.

Yang paling lama adalah membereskan kardus.

Ibunya pernah bilang, orang Sembalun yang pulang dari rantau harus membawa sesuatu untuk tetangga, sekecil apa pun. Maka Yusuf berkeliling Nagoya dan Jodoh dengan sisa uang yang sudah ia hitung ketat: kue bangkit dan bolu kemojo, beberapa bungkus kopi saset yang bungkusnya bertulisan bahasa asing, sarung untuk Amaq, kerudung untuk Inaq dan adik perempuannya, Hana. Untuk anak-anak tetangga ia membeli cokelat batangan yang harganya murah karena dekat kedaluwarsa. Ia memeriksa tanggalnya satu per satu. Masih tiga bulan. Cukup.

Semua masuk ke satu kardus bekas televisi yang ia minta dari toko elektronik. Ia melapisinya dengan kantong plastik, mengikatnya dengan tali rafia biru empat kali melintang, lalu menulis dengan spidol hitam di sisinya: YUSUF, SEMBALUN LAWANG, LOMBOK TIMUR. Tulisannya miring. Ia menambahkan nomor ponsel di bawahnya, kebiasaan dari pabrik: setiap barang harus punya label, supaya kalau tercecer bisa kembali ke pemiliknya.

Malam terakhir, Bang Udin membungkuskan rendang dalam wadah plastik bertutup rapat.

"Untuk di kapal. Rendang tahan berhari-hari. Macam orang Padang, tahan banting."

"Berapa, Bang?"

"Bayar nanti. Kalau kau sudah sukses, kirim aku sesuatu dari kampungmu. Yang asli. Jangan yang beli di bandara."

Yusuf berjanji tanpa tahu apa yang bisa ia kirim.

Pagi berikutnya ia berdiri di pelabuhan Batu Ampar dengan ransel di punggung, kardus di tangan kanan, dan tiket kapal kelas ekonomi di saku kemeja. Di depannya kapal putih besar menunggu, cerobongnya mengepulkan asap tipis ke langit yang sedang menimbang mau hujan atau tidak. Ratusan orang berdesakan dengan kardus, karung, dan anak-anak di gendongan. Sebagian besar dari mereka, pikir Yusuf, mungkin juga sedang pulang. Ia tidak tahu berapa banyak yang pulang karena ingin dan berapa yang pulang karena tidak punya pilihan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Inaq: "Nak, Amaq tanya kamu Lebaran Haji pulang tidak."

Yusuf menatap pesan itu lama. Lalu ia mengetik: "Yusuf pulang lebih cepat, Inaq. Lagi di jalan."

Ia menekan kirim sebelum sempat menghapusnya, mengangkat kardus ke bahu, dan berjalan menaiki tangga kapal tanpa menoleh ke belakang.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Rencana B Saat PHK

Hari-hari pertama setelah PHK sering terasa kabur, padahal di situlah keputusan penting diambil: surat apa yang ditandatangani, hak apa yang ditagih, dan ke mana uang pesangon diba...

Rp35.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu