🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Kursi Paling Depan

Kawa Daun dan Kabut Pukul Lima · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

"Kursi depan sudah dipesan orang, Nak. Orang Jakarta, katanya mabuk darat."

Perempuan di loket travel itu mengatakannya sambil menunjuk Nadia dengan dagu, seolah Nadia adalah orang lain yang kebetulan berdiri di tempat yang sama. Di belakang Nadia, seorang ibu bertubuh kecil dengan dua kantong plastik besar berisi kerupuk sanjai mendengus keras.

"Selalu orang Jakarta yang dapat depan," gerutunya.

"Saya memang orang Jakarta, Bu," kata Nadia. "Dan saya memang mabuk darat."

Ibu itu menatapnya lama, lalu menyodorkan sebungkus sanjai yang sudah terbuka. "Kalau begitu makan ini. Pedasnya bikin lupa perut."

Tiga minggu. Naskah setebal empat ratus halaman sudah terkirim ke penerbit dua hari sebelum tenggat. Nadia tidur dua belas jam setelahnya, lalu bangun dan langsung memesan tiket pesawat ke Padang, seolah takut keberaniannya menguap kalau ditunda satu hari saja.

Di tas selempangnya ada dua benda. Yang pertama, cetakan percobaan halaman ucapan terima kasih, dikirim editornya kemarin sore. Yang kedua, sebuah surel yang sudah ia cetak dan lipat empat, yang belum ia ceritakan kepada siapa pun.

Mobil travel datang pukul sepuluh lewat tujuh. Kemeja kotak-kotak, kali ini biru. Lengan digulung. Reno turun, melihat Nadia, dan lupa menutup pintu mobil.

"Kak," katanya.

"Kursi paling depan," jawab Nadia. "Sesuai pesanan."


Ibu penjual sanjai ternyata bernama Mak Etek, dan ternyata ia mengenal Reno sejak Reno masih "sebesar botol kecap". Sepanjang jalan dari Padang, Mak Etek duduk tepat di belakang kursi Nadia dan memberi komentar atas segala hal.

"Pelan-pelan, Ren. Ada orang Jakarta."

"Kenapa radionya dimatikan? Biasanya kau menyanyi."

"Oh. Malu, ya?"

Reno tidak menjawab, tetapi telinganya merah. Nadia menatap ke luar jendela, ke tebing hijau dan sungai berbatu di Lembah Anai, dan berusaha keras tidak tertawa.

Di dekat air terjun, Reno menepi. Bukan karena Nadia mabuk. Ia sudah makan setengah bungkus sanjai dan perutnya, ajaibnya, tenang. Reno menepi karena Mak Etek mau membeli pisang, dan karena, kata Reno pelan, "Kakak belum pernah lihat air terjun ini dari dekat, kan?"

Mereka berdiri di pagar besi, dibasahi percikan air yang dingin. Suara air begitu keras sampai mereka harus berdiri berdekatan untuk mendengar satu sama lain.

"Naskahnya selesai?" tanya Reno.

"Selesai. Kalimatmu masuk."

"Kalimat Kakak. Saya cuma kasih pantun."

Nadia membuka tasnya dan menyerahkan cetakan halaman ucapan terima kasih. Reno membacanya dengan dahi berkerut, bibirnya bergerak tanpa suara, seperti anak sekolah yang membaca di depan kelas.

Terima kasih kepada seorang pengemudi di jalur Padang–Bukittinggi, yang mengembalikan buku catatan ini dan, tanpa sengaja, menerjemahkan kalimat yang paling sulit di dalamnya.

Reno membaca dua kali. Lalu ia melipat kertas itu dengan sangat rapi, seperti melipat surat penting, dan tidak mengembalikannya.

"Itu punya saya," kata Nadia.

"Sekarang punya saya," jawab Reno. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum lebar. "Kakak sudah ambil pantun saya. Impas."

Dari mobil, Mak Etek berteriak bahwa pisangnya sudah dibeli dan apakah mereka mau berdiri di situ sampai Lebaran.


Kedai Pak Datuak tidak berubah. Bangku panjang yang sama, tungku tanah liat yang sama, bau daun kopi sangrai yang sama. Yang berubah hanya satu: di dinding kayu, di sebelah papan harga, tertempel selembar kertas bergaris yang dilaminasi.

Nadia mendekat. Itu fotokopi halaman buku catatannya. Halaman bab sebelas, lengkap dengan tanda tanya besar, sepuluh terjemahan yang dicoret, pantun berpensil, dan versi kesebelas yang ia tulis dengan pena.

"Pak Datuak!"

"Bukan saya," kata Pak Datuak cepat, mengipasi tungku. "Cucu saya yang fotokopi. Sebelum dikembalikan. Katanya, biar ada kenang-kenangan kalau Nak Nadia tidak datang lagi."

Nadia menoleh. Reno sedang sangat sibuk memeriksa ban mobilnya yang sama sekali tidak bermasalah.

Pukul empat, Reno akhirnya duduk. Dari dalam tas pinggangnya ia mengeluarkan buku tulis bersampul plastik, jenis yang dijual di warung dekat sekolah.

"Selama tiga minggu," katanya, tidak menatap Nadia, "saya tanya ke Datuak. Pantun-pantun lama. Yang dia ingat dari ibunya, dari kakeknya. Saya tulis semua. Sudah ada empat puluh tiga." Ia mendorong buku itu ke arah Nadia. "Siapa tahu nanti Kakak buntu lagi."

Nadia membuka halaman pertama. Tulisan pensil yang sama, huruf kecil yang hati-hati. Setiap pantun diberi arti dalam bahasa Indonesia, dan di bawahnya, catatan kecil: Cocok untuk kalimat sedih. Cocok untuk kalimat tentang laut. Cocok untuk orang yang pergi jauh.

Ia berhenti di catatan terakhir itu. Jarinya menekan kertas.

Di tasnya, surel yang dilipat empat terasa seperti batu.

Program residensi penerjemah di Lyon. Enam bulan. Berangkat tanggal empat bulan depan. Mohon konfirmasi paling lambat Jumat.

Ia sudah memimpikan surel seperti itu sejak kuliah. Ia membacanya di kamar kos di Jakarta, sendirian, dan menangis karena senang. Lalu ia membuka buku catatan bersampul kain cokelat, melihat pantun berpensil di pinggir halaman, dan menangis lagi untuk alasan yang tidak ia mengerti.

"Kak?" Reno menatapnya. "Jelek, ya?"

"Bagus," kata Nadia. Suaranya serak. "Bagus sekali, Ren."

Ia hampir mengatakannya. Kalimatnya sudah ada di ujung lidah, sudah diterjemahkan dan disunting berkali-kali di kepalanya sepanjang penerbangan. Tetapi ponselnya bergetar di meja.

Surel baru. Pengirimnya membuat Nadia menahan napas.

Hélène Marchand. Penulis novel yang baru saja ia terjemahkan. Perempuan berusia tujuh puluh satu tahun yang tinggal di kota kecil di selatan Prancis, yang tidak pernah membalas surel siapa pun, kata editornya, kecuali urusan kontrak.

Dua minggu lalu, dengan sedikit nekat, Nadia menulis kepadanya tentang kalimat di bab sebelas, dan tentang pantun seorang pengemudi yang membantunya menemukan terjemahan.

Balasannya pendek.

Nadia yang baik. Kalimat itu saya tulis tiga puluh tahun lalu, dan sampai hari ini saya tidak tahu artinya. Pengemudi Anda tahu. Saya sedang di Jakarta untuk sebuah festival. Kamis ini saya terbang ke Padang. Tolong, minta dia menjemput saya.

Nadia membaca surel itu dua kali, lalu menoleh pelan ke arah Reno, yang sedang meniup kawa di tempurungnya tanpa curiga sedikit pun.

Di luar, kabut mulai naik dari dasar ngarai.

"Ren," kata Nadia. "Kamis ini kamu kosong?"

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu