🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Episode 1 dari 2

Kotak Buku ke Hulu Kapuas

Kotak Buku ke Hulu Kapuas · 25 Okt 2026 · 6 menit baca

Kotak itu dari kardus bekas mi instan, dilapisi plastik tebal tiga lapis, dan diikat tali rafia biru dengan simpul mati yang diajarkan seorang nelayan di Pontianak. Di dalamnya ada seratus dua belas buku cerita anak: dongeng Nusantara, ensiklopedia binatang bergambar, cerita bergambar tentang astronot, kancil, dan seekor kucing yang ingin jadi pilot.

Bu Sari mengumpulkannya selama sebulan cuti. Ia membuat unggahan di media sosial, meminta buku bekas layak baca dari teman-teman kuliahnya dulu. Ia tidak menyangka akan sebanyak ini. Beberapa buku masih bersegel plastik. Satu kiriman datang dari seorang ibu yang tidak dikenalnya di Bandung, dengan selembar surat: Ini buku anak saya waktu kecil. Sekarang dia sudah kuliah. Semoga dibaca lagi oleh anak-anak lain.

Bu Sari berumur dua puluh enam tahun. Setahun lalu ia ditugaskan mengajar di sebuah SD di sebuah kampung di hulu Sungai Kapuas, di Kapuas Hulu. Sekolahnya terdiri dari tiga ruang kelas papan, satu ruang guru yang juga menjadi perpustakaan, dan perpustakaan itu berisi sebelas buku paket yang sudah lepas jilidnya.

Murid-muridnya pintar menghitung ikan di keramba dan bisa menyebutkan nama dua puluh jenis pohon di hutan. Tetapi ketika ia bertanya siapa yang pernah membaca buku cerita sampai habis, tidak ada yang mengangkat tangan.


Perjalanan pulang ke kampung itu panjang. Dari Pontianak, ia naik bus malam ke Putussibau, kota kabupaten di hulu, sambil memangku kotak itu karena tidak mau menaruhnya di bagasi. Dari Putussibau, speedboat menyusuri Kapuas yang lebar dan cokelat tenang, melewati kampung-kampung di tepi sungai dengan rumah panggung dan jamban terapung. Lalu dari kampung terakhir yang bisa dicapai speedboat, perjalanan dilanjutkan dengan perahu panjang bermotor tempel yang dikemudikan Pak Lambang, ayah salah satu muridnya.

"Berat sekali kotakmu, Bu Guru," kata Pak Lambang ketika mengangkatnya ke perahu.

"Buku, Pak. Untuk anak-anak."

Pak Lambang memandangi kotak itu dengan cara yang tidak bisa dibaca Bu Sari, lalu mengangguk dan menaruhnya di tengah perahu, di bagian paling kering, di bawah terpal.

Sungai menyempit. Air berubah dari cokelat menjadi kehijauan dan lebih jernih. Hutan di kedua tepi semakin rapat, pohon-pohon raksasa berdiri dengan akar menjulur ke air. Burung enggang terbang melintas dengan kepak sayap yang berat dan bersuara seperti angin di dalam pipa. Bu Sari sudah melihatnya puluhan kali selama setahun, tetapi setiap kali ia masih menahan napas.

Menjelang sore, Pak Lambang memperlambat mesin.

"Riam, Bu. Pegangan."


Riam adalah bagian sungai yang dangkal dan berbatu, tempat air berlari deras dan berbuih putih di antara batu-batu besar. Selama setahun, Bu Sari sudah melewati riam ini belasan kali. Biasanya Pak Lambang mengemudikan perahu dengan lihai, menghindari batu, sementara anaknya di haluan menolak batu dengan galah.

Tetapi hari itu hujan di hulu dua hari terakhir membuat airnya lebih tinggi dan lebih liar. Perahu berguncang hebat. Air menampar lambung, menyembur masuk. Bu Sari memeluk tiang perahu dengan satu tangan dan berusaha menahan kotak buku dengan kaki.

Lalu satu gelombang besar menghantam dari samping.

Perahu miring. Air masuk deras dari pinggir, menggenangi dasar perahu sampai setinggi mata kaki, lalu setinggi betis. Terpal terlepas. Kotak buku bergeser dan setengahnya terendam.

"Kotaknya!" teriak Bu Sari.

Pak Lambang mengarahkan perahu ke tepi dengan tenaga penuh. Dalam beberapa menit yang terasa seperti satu jam, perahu itu akhirnya menepi di sebuah gosong pasir di balik riam. Mereka semua basah kuyup, tetapi selamat.

Bu Sari melompat turun dan menyeret kotak itu ke pasir. Tali rafia biru masih terikat kuat. Tetapi plastik pelapisnya robek di satu sisi, dan ketika ia membuka kotak dengan tangan gemetar, air keruh mengalir keluar.

Buku-buku itu basah. Halaman-halamannya menempel satu sama lain. Gambar kucing pilot di sampul paling atas luntur, warnanya meleleh seperti cat air yang kena hujan.

Bu Sari duduk di pasir dan menangis.

Ia tidak menangis karena kedinginan, atau karena takut, meski ia tadi sangat takut. Ia menangis karena surat ibu dari Bandung itu. Karena unggahan yang dibagikan ratusan kali. Karena dalam bayangannya, ia akan masuk kelas besok pagi dan membuka kotak ini di depan dua puluh tiga muridnya, dan mata mereka akan berbinar.

Pak Lambang duduk di sampingnya, diam, menunggu.


Mereka tiba di kampung saat senja. Berita sudah sampai lebih dulu, entah bagaimana. Di dermaga kayu, anak-anak sudah menunggu, sebagian masih berseragam, sebagian bertelanjang dada setelah mandi di sungai.

"Bu Guru jatuh di riam!"

"Bukunya basah!"

Bu Sari turun dari perahu dengan wajah sembap. Ia berusaha tersenyum. "Maaf, ya. Bukunya rusak."

Murid-muridnya memandangi kotak basah itu. Lalu Yohanes, murid kelas lima yang paling pendiam, maju dan membuka kotak itu tanpa bertanya. Ia mengeluarkan satu buku, memeriksanya, lalu berkata dengan serius, "Belum rusak, Bu. Cuma basah. Ikan asin juga basah dulu, Bu. Dijemur, jadi."

Anak-anak lain tertawa. Lalu, tanpa diperintah, mereka mulai mengangkat buku satu per satu dari kotak.


Esok paginya, Bu Sari tidak mengajar di kelas.

Seluruh sekolah pindah ke halaman dan ke batu-batu besar di tepi sungai. Anak-anak menjemur buku-buku itu di atas batu yang hangat oleh matahari, satu per satu, halaman demi halaman dibuka hati-hati supaya tidak sobek. Anak-anak kelas satu bertugas mengusir ayam yang penasaran. Anak-anak kelas enam memisahkan halaman yang lengket dengan bilah bambu tipis, persis cara ibu-ibu mereka memisahkan lembaran ikan asin.

Ibu-ibu kampung datang membawa tampah dan tikar pandan. Para bapak membuat tali jemuran dari rotan di antara pohon. Pak Lambang membawa kipas anyaman dan mengipasi buku-buku yang paling basah, seperti mengipasi bara.

Dan sambil menunggu buku-buku itu kering, anak-anak mulai membaca.

Halaman yang sudah kering dibaca keras-keras oleh yang sudah lancar membaca, didengarkan oleh yang belum. Yohanes membacakan cerita kancil kepada adik-adik kelas satu dengan suara yang tidak pernah Bu Sari dengar sebelumnya, keras, jelas, penuh gaya. Dua anak perempuan berebut buku tentang astronot, lalu sepakat membacanya berdua, kepala mereka berdempetan di atas halaman yang masih bergelombang.

Bu Sari duduk di batu besar di tepi sungai, memandangi semua itu.

Seratus dua belas buku, tersebar di halaman, di batu, di tali rotan, di pangkuan anak-anak. Halaman-halamannya bergelombang, beberapa warnanya luntur, semuanya berbau sungai. Tidak ada satu pun yang akan tampak bagus di foto unggahan media sosial.

Tetapi semuanya sedang dibaca.

Sore harinya, Yohanes mendekat membawa buku kucing pilot yang sampulnya paling rusak. Gambarnya kini hanya noda warna-warni yang tidak berbentuk.

"Bu Guru, ini boleh saya pinjam? Saya mau gambar lagi sampulnya. Kucingnya kasihan, mukanya hilang."

Bu Sari memandangi anak itu lama. Lalu ia mengangguk.

Malam itu ia menulis pesan untuk ibu di Bandung yang mengirimkan surat itu. Ia memotret buku-buku yang dijemur di atas batu, anak-anak yang membaca di tepi sungai, dan sampul kucing pilot yang besok akan digambar ulang oleh seorang anak kelas lima.

Bukunya sampai, Bu. Sedikit basah. Tapi sekarang dibaca seluruh kampung.

Lalu ia membuka buku catatannya dan mencoret satu baris yang ia tulis sebulan lalu, sebelum cuti, ketika ia sedang ragu: Tahun depan minta pindah ke kota?

Di bawahnya ia menulis: Tahun depan, dua kotak.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Psikologi Anak Usia Dini

Usia dua sampai enam tahun adalah masa ketika emosi, bahasa, dan kebiasaan anak berkembang sangat pesat. Buku ini membantu orang tua memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik t...

Rp45.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu