🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Cirebon Pukul Dua Pagi

Lentera untuk Stasiun Kalibaru · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Raka tidak bisa tidur. Kursi kereta ekonomi itu tegak, lututnya beradu dengan lutut penumpang di depannya, dan udara dari pendingin berembus tepat ke tengkuknya. Di sebelahnya, Pak Harsono tidur dengan mulut sedikit terbuka, tangan tetap memeluk tas berisi lentera.

Pukul dua lewat sedikit, kereta melambat. Lampu-lampu kuning sebuah stasiun besar merayap masuk lewat jendela. Papan nama berwarna biru lewat pelan: CIREBON.

Pintu gerbong terbuka. Beberapa penumpang turun dengan wajah mengantuk, beberapa naik membawa bungkusan. Seorang perempuan muda dengan tas ransel besar duduk di kursi kosong di seberang lorong. Rambutnya diikat asal, jaketnya bertuliskan nama sebuah universitas di Semarang.

Kereta kembali bergerak. Raka membuka ponsel, membuka gim, lalu menutupnya lagi. Baterainya tinggal enam puluh persen dan ia harus berhemat sampai Surabaya. Ia baru menyadari betapa panjang malam di kereta kalau tidak ada yang bisa ditonton.

"Nggak bisa tidur juga?" tanya perempuan itu pelan.

Raka menggeleng.

"Pertama kali naik kereta jauh?"

"Iya. Dipaksa Kakek."

Perempuan itu tertawa tertahan supaya tidak membangunkan orang. Ia memperkenalkan diri sebagai Mbak Tika, mahasiswi tingkat akhir yang pulang dari magang di Jakarta. "Aku dulu juga dipaksa. Sama bapakku. Sekarang malah ketagihan."

"Kenapa?"

Mbak Tika menunjuk jendela. Di luar gelap, hanya sesekali lampu rumah atau lampu jalan yang melintas cepat. "Coba lihat sebentar. Jangan pegang HP."

Raka menurut, setengah malas. Awalnya ia hanya melihat pantulan wajahnya sendiri. Lalu matanya mulai terbiasa. Ada siluet pohon kelapa yang hitam pekat di atas langit yang sedikit lebih terang. Ada sawah yang memantulkan bulan seperti cermin pecah. Ada satu rumah dengan lampu menyala dan seseorang duduk di teras, pukul dua pagi, entah menunggu siapa.

"Orang itu ngapain bangun jam segini?" bisik Raka.

"Nggak tahu. Itu yang seru. Tiap jendela satu cerita yang nggak akan pernah kita tahu ujungnya."

Raka terus memandangi jendela setelah rumah itu lewat.


Pak Harsono terbangun ketika kereta mengerem di sebuah perlintasan. Ia mengerjap, memeriksa tas lenteranya, lalu tersenyum ketika melihat cucunya masih terjaga dan sedang mengobrol dengan seorang mahasiswi.

"Kakek, ini Mbak Tika. Kuliah di Semarang."

"Selamat pagi, Nak. Eh, masih malam, ya."

Mbak Tika tertawa. "Pagi buta, Pak. Raka cerita Bapak dulu kondektur?"

Mata Pak Harsono berbinar. Itu pertanyaan yang tidak perlu diulang dua kali. Ia bercerita tentang zaman ketika gerbong ekonomi penuh sesak sampai orang duduk di atap, tentang pedagang asongan yang bisa menjual nasi bungkus, kopi, rokok, dan koran dalam satu kali lewat lorong, tentang malam-malam ketika ia harus memeriksa karcis dengan senter kecil di gigi.

"Lalu malam banjir di Kalibaru," kata Raka tiba-tiba. "Ceritain ke Mbak Tika, Kek."

Pak Harsono menoleh, sedikit terkejut. Cucunya mengingat.

Maka ia bercerita lagi: hujan yang dituang dari langit, lampu yang mati, bayi yang menangis, nenek yang sesak napas, dan seorang penjaga sinyal yang datang menembus hujan membawa lentera. Kali ini ia menambahkan detail yang semalam tidak ia ceritakan.

"Nenek yang sesak napas itu," katanya, "Pak Slamet menggendongnya sendiri ke rumahnya. Dua ratus meter, jalan berlumpur, hujan. Istrinya merebus daun sirih dan menyuruh nenek itu menghirup uapnya. Kakek berdiri di depan pintu memegang lentera supaya mereka bisa melihat jalan. Sampai pagi nenek itu baik-baik saja. Waktu kereta mau berangkat, dia mencium tangan Pak Slamet lama sekali. Tidak bilang apa-apa. Cuma mencium tangan."

Mbak Tika diam. Raka juga.

"Kenapa Kakek nggak pernah balik?" tanya Raka pelan. Bukan menuduh, hanya ingin tahu.

Pak Harsono menatap tas di pangkuannya. "Karena Kakek pikir masih ada waktu. Selalu ada waktu. Tahun depan, tahun depannya lagi. Lalu tahu-tahu rambut Kakek sudah putih semua."


Seorang petugas restorasi lewat mendorong troli kecil berisi kopi, mi instan, dan roti. Pak Harsono memesan dua teh manis panas. Ia menyodorkan satu gelas kepada Mbak Tika dan satu kepada Raka, lalu tidak memesan untuk dirinya sendiri.

"Kakek nggak minum?"

"Kakek sudah kenyang cerita." Ia terkekeh. "Dulu Kakek yang membagikan teh di gerbong ini kalau kereta tertahan lama. Sekarang giliran Kakek yang membelikan. Begitu saja putarannya."

Raka meniup tehnya. Uapnya menempel di kaca jendela dan membuat lingkaran embun kecil. Ia menggambar garis rel di embun itu dengan ujung jarinya, lalu sebuah lentera kecil di ujungnya.


Menjelang subuh, Mbak Tika tertidur dengan kepala bersandar ke jendela. Pak Harsono juga terlelap lagi. Raka satu-satunya yang masih terjaga di deretan kursi itu.

Ia membuka galeri ponselnya dan melihat foto lentera yang ia ambil semalam sebelum berangkat. Lalu, tanpa benar-benar memutuskan, ia mengarahkan kamera ke jendela.

Hasil pertama buram. Kereta terlalu cepat, lampu terlalu sedikit. Foto kedua sama saja. Ia menurunkan ponsel, kesal.

"Tempelkan HP-nya ke kaca," gumam Mbak Tika tanpa membuka mata. "Biar pantulan lampu gerbong nggak masuk. Terus tunggu ada lampu yang lewat pelan. Jangan dikejar."

Raka menurut. Ia menempelkan ponsel ke kaca jendela, menutup sisi-sisinya dengan telapak tangan, dan menunggu. Satu menit. Dua menit. Lalu kereta melambat di dekat sebuah stasiun kecil, dan sebuah lampu jalan kuning lewat pelan bersama bayangan pohon pisang di bawahnya.

Ia menekan tombol.

Fotonya tidak sempurna. Sedikit buram di pinggir. Tetapi lampu kuning itu jelas, daun pisang tampak seperti tangan yang melambai, dan di sudut kiri ada pantulan samar wajahnya sendiri, setengah tembus pandang, seperti hantu yang sedang menonton.

Raka tersenyum tanpa sadar.

Di langit timur, warna hitam mulai berubah menjadi biru tua. Kereta terus berjalan ke arah cahaya itu, membawa seorang kakek, seorang cucu, dan sebuah lentera yang sudah empat puluh tahun menunggu pulang.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Fotografi Ponsel

Kamera ponsel hari ini sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan foto yang memukau. Yang membedakan foto biasa dan foto yang membuat orang berhenti menggulir layar adalah cara kamu...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu