🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Atap Kelas Lima

Musim Pala di Banda Neira · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Hujan datang tepat pukul sepuluh, seperti yang dijanjikan Ilham. Bukan hujan yang turun pelan-pelan, melainkan hujan yang dijatuhkan sekaligus dari langit, seolah seseorang di atas sana menumpahkan ember raksasa.

Kelas lima tergenang dalam lima belas menit. Air menetes dari tiga titik di plafon, lalu dari lima, lalu dari tempat yang tidak bisa Kirana hitung lagi. Murid-murid tidak panik. Mereka mengangkat tas ke atas meja dengan gerakan terlatih, menggeser bangku ke sudut yang kering, dan menaruh ember plastik di bawah tetesan paling deras. Seorang anak perempuan bernama Sitti bahkan mengeluarkan kantong kresek dari laci dan membungkus buku tulisnya seperti nasi bungkus.

"Biasa, Bu," kata Sitti, melihat wajah Kirana. "Kalau hujan, kami belajar di koridor."

Maka mereka belajar di koridor. Kirana menulis di papan tulis kecil yang disandarkan ke dinding, dan dua puluh tiga murid duduk bersila di lantai semen yang dingin. Pelajaran hari itu sebenarnya pecahan, tetapi suara hujan di atap seng terlalu keras untuk pecahan. Jadi Kirana mengganti rencana: ia bertanya siapa yang tahu kenapa ada benteng-benteng tua di pulau sekecil ini.

Semua tangan terangkat.

"Karena pala, Bu!"

"Karena Belanda mau pala!"

"Karena dulu pala lebih mahal dari emas!" teriak Ilham dari belakang, lalu menambahkan dengan bangga, "Kakak saya yang bilang."

Fajar datang pukul tiga, ketika hujan sudah reda dan matahari kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Ia membawa dua orang tetangga, setumpuk seng bekas yang masih bagus, dan gulungan terpal biru. Tidak ada yang membayar mereka. Kirana bertanya pada Bu Ance soal biaya, dan Bu Ance hanya mengibaskan tangan.

"Di sini, atap sekolah itu urusan kampung," katanya. "Uangnya nanti dari mana-mana. Ada yang kasih seng, ada yang kasih tenaga, ada yang kasih kopi. Bu Guru bagian kasih kopi saja."

Kirana membuat kopi di dapur sekolah yang kompornya harus dinyalakan dengan korek dan doa. Ia menemukan gula di stoples bekas biskuit dan kopi bubuk di kaleng susu, lalu menyusun gelas-gelas berbeda ukuran di atas nampan seng yang catnya sudah mengelupas. Ketika ia membawa nampan ke luar, Fajar sedang duduk di bubungan atap, mencopot seng yang berkarat dengan linggis kecil. Dari bawah, ia kelihatan seperti bagian dari langit yang baru dicuci.

"Turun dulu, kopinya dingin nanti," seru Kirana.

"Kopi di sini tidak pernah dingin, Bu Guru. Mataharinya terlalu sayang," jawab Fajar, tapi ia turun juga.

Mereka minum kopi di tangga sekolah. Kopinya kental dan terlalu manis, karena Kirana tidak tahu takaran gula orang Banda dan memutuskan untuk bermurah hati. Fajar menghabiskannya tanpa komentar, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku: sebutir biji berwarna cokelat gelap yang dibungkus jaring merah menyala, seperti biji yang memakai renda.

"Ini pala," katanya. "Yang merah itu fuli. Orang luar banyak yang tidak tahu. Mereka kira pala itu ya cuma bijinya. Padahal fuli lebih mahal. Dulu satu genggam fuli bisa ditukar satu rumah di Belanda, kata kakek saya."

"Kakekmu suka bercerita?"

"Kakek saya suka melebih-lebihkan," kata Fajar, tersenyum. "Tapi soal fuli, dia tidak salah."

Kirana memutar biji itu di jarinya. Renda merah itu terasa lembut dan sedikit berminyak, dan baunya lebih tajam daripada karung kemarin. "Kenapa kamu kasih saya ini?"

"Untuk murid-murid. Ibu tadi mengajar soal pala di koridor, kan? Ilham sudah lapor." Fajar meletakkan cangkirnya. "Kalau mau, bawa saja mereka ke kebun saya di Lonthoir. Naik perahu sebentar. Mereka bisa lihat pohonnya, lihat cara jemur fuli. Itu lebih bagus daripada gambar di buku."

"Kamu punya waktu?"

"Waktu di sini banyak, Bu Guru. Yang tidak banyak itu sinyal."

Atap selesai menjelang magrib. Seng baru dan seng bekas berselang-seling di atas kelas lima seperti tambalan di celana kesayangan, tetapi tidak ada lagi titik yang bocor ketika Fajar menyiramnya dengan selang untuk mencoba. Murid-murid yang masih bertahan di halaman bersorak. Ilham memanjat pagar untuk melihat lebih dekat dan diturunkan kakaknya dengan satu tangan.

Kirana pulang ke kos dengan sepatu yang kotor dan perasaan yang tidak bisa ia beri nama. Malam itu ia membuka buku catatannya untuk menulis rencana minggu depan, tetapi yang ia tulis malah daftar kecil di pinggir halaman: fuli lebih mahal dari biji. Kopi orang Banda: gula dua sendok saja. Fajar selalu datang terlambat tapi selalu datang.

Seminggu kemudian, ia mengantar Ilham pulang setelah les tambahan, dan untuk pertama kalinya melihat rumah keluarga Fajar di Neira. Rumah kayu bercat hijau pucat, dengan teras penuh tampah berisi fuli yang sedang dijemur dan seorang perempuan paruh baya yang memilahnya dengan cekatan.

"Mama," kata Ilham. "Ini Ibu Guru Kirana."

Mama Nur tersenyum lebar dan langsung menyuruh Kirana duduk. Teh disajikan, kali ini dengan gula yang wajar. Mereka bicara soal sekolah, soal Bogor yang hujannya tidak sebanyak di sini, soal Ilham yang malas mengerjakan PR matematika.

Ketika Mama Nur masuk ke dapur untuk mengambil kue, Kirana melihat amplop di atas meja teras. Amplop putih bersih dengan kop sebuah perusahaan dari Jakarta, terselip di bawah asbak kerang. Ia tidak berniat membaca. Tetapi angin dari laut membuka lipatannya, dan kalimat pertama terbaca jelas:

Penawaran pembelian lahan kebun pala seluas dua hektar di Desa Lonthoir untuk pengembangan resor...

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Bisnis Online Modal Kecil

Memulai bisnis online tidak harus menunggu modal besar atau punya gudang sendiri. Yang dibutuhkan adalah produk yang tepat, hitungan harga yang benar, dan cara berjualan yang teruk...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu