Kakek yang Bangun Sebelum Azan
Alarm pertama berbunyi pukul empat, dan Fikri mematikannya dengan mata tertutup. Alarm kedua berbunyi lima menit kemudian, dan kali ini ia mendengar sesuatu yang lain di sela bunyinya: suara pintu dapur, gemericik air, dan batuk kecil yang ditahan.
Ia melompat bangun. Di dapur, kakek sudah berpakaian lengkap, celana digulung sampai lutut, caping bambu tergantung di punggung. Di meja ada dua gelas teh manis dan dua potong ubi rebus.
"Kau bangun," kata kakek. Datar, tapi Fikri merasa ada yang berbeda di ujung kalimatnya, sesuatu yang hampir seperti senang.
Mereka berjalan kaki ke sawah setelah subuh. Jalan setapak di pematang licin dan sempit, dan Fikri dua kali hampir terpeleset ke lumpur. Kakek berjalan di depan tanpa menoleh, langkahnya pendek-pendek tapi pasti, seperti kakinya punya mata sendiri.
Sawah kakek tidak luas, kira-kira setengah lapangan bola, dikelilingi sawah-sawah lain yang sudah digenangi air. Di satu sudut, bibit padi hijau muda berdiri rapat di petak persemaian.
"Hari ini kita cabut bibit," kata kakek. "Besok tanam."
Kakek menunjukkan caranya sekali: genggam pangkal bibit, tarik pelan sambil digoyang, kibaskan tanahnya, ikat segenggam dengan tali bambu. Lalu ia mulai bekerja, dan Fikri mencoba meniru.
Bibit pertama yang ia cabut putus di tengah. Yang kedua keluar bersama segumpal lumpur yang memercik ke mukanya. Yang ketiga baru benar. Kakek tidak berkomentar sama sekali, tapi setiap kali Fikri berhasil mengikat segenggam, kakek mengambil ikatan itu dan menumpuknya di atas ikatannya sendiri, seolah tidak ada bedanya.
Matahari naik. Punggung Fikri terasa seperti dibakar, dan lumpur sudah sampai ke siku. Pukul tujuh kurang sepuluh, kakek berdiri dan meluruskan pinggang.
"Cukup. Pulang, sekolahmu."
Di perjalanan pulang, kakek berhenti di sebuah petak dan memungut seekor keong emas dari batang padi, lalu memasukkannya ke kantong plastik yang ia bawa. "Hama," katanya singkat. "Satu ekor bisa habiskan satu rumpun dalam semalam." Fikri ikut mencari, dan menemukan tiga ekor sebelum mereka sampai ke jalan.
Fikri memandang tumpukan ikatan bibit. Ia tidak menghitung, tapi tumpukan itu terlihat besar, dan sebagian kecil di antaranya buatannya.
Sekolah daring berlangsung di teras rumah panggung, satu-satunya tempat yang sinyalnya mau bertahan lebih dari satu menit. Fikri meletakkan ponselnya di atas tumpukan buku, menyandarkannya ke tiang, dan mengikuti pelajaran matematika sambil menahan kantuk.
Di bawah, kakek duduk di bangku kayu, membersihkan cangkul dengan lap. Setiap beberapa menit, Fikri melihatnya berhenti, memijat jari-jarinya, lalu melanjutkan.
Saat jeda pelajaran, Fikri turun. "Kek, tangannya sakit?"
"Pagi-pagi memang begitu. Nanti siang hilang."
"Sudah ke dokter?"
Kakek mengangkat bahu. "Puskesmas kasih obat. Kakek minum kalau ingat."
"Kalau ingat?"
Kakek tidak menjawab. Ia meletakkan cangkul dan masuk ke kolong rumah, mengambil karung gabah, lalu berpura-pura sibuk menghitung isinya.
Fikri naik lagi ke teras. Di sela pelajaran sejarah, ia mencari "obat rematik lansia lupa minum" di ponselnya, lalu menutupnya karena merasa aneh. Ia bukan perawat. Ia di sini karena hukuman. Tapi kalimat kalau ingat itu terus berputar di kepalanya.
Sore harinya, sepupu ibunya datang. Tante Halimah, perempuan gemuk yang suaranya bisa terdengar dari ujung kampung, membawa rantang berisi coto dan sebungkus kerupuk.
"Ini cucunya yang dari Jakarta? Astaga, tinggi sekali! Ibumu dulu juga tinggi, Nak." Ia mencubit pipi Fikri, yang sudah terlalu tua untuk dicubit. "Bapak sudah makan? Obatnya sudah diminum?"
Kakek, yang sedang duduk di tangga, menjawab pendek. "Sudah."
Tante Halimah melirik Fikri, lalu mengajaknya ke dapur dengan alasan menyiapkan piring. Di sana, suaranya mengecil, untuk pertama kalinya.
"Nak, Tante titip ya. Bapak itu sudah mulai pelupa. Kadang lupa sudah makan, kadang lupa kunci pintu. Minggu lalu motornya ditinggal di pasar, dia pulang jalan kaki, terus bingung motornya di mana." Ia menghela napas. "Om Rahman, adik ibumu, sudah lama mau bawa Bapak ke Makassar. Tapi Bapak tidak mau. Katanya selama sawah masih bisa digarap, dia tidak pergi."
"Om Rahman mau jual sawahnya?"
Tante Halimah tidak langsung menjawab, dan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Malamnya, setelah makan coto, Fikri menemukan kotak obat kakek di lemari dapur. Isinya tiga strip tablet, dua di antaranya masih penuh. Di samping kotak ada kalender bergambar masjid dengan tanggal-tanggal yang tidak dicoret.
Ia tidak tahu harus berbuat apa, jadi ia melakukan hal yang paling ia kuasai: ia membuka ponsel, membuat pengingat harian pukul tujuh pagi dan tujuh malam, lalu mengambil spidol dari ransel dan menulis di kalender, kecil-kecil, di setiap tanggal sampai akhir bulan: P dan M, pagi dan malam.
Lalu ia mengambil satu tablet, menuang air ke gelas, dan membawanya ke ruang tengah, tempat kakek duduk mendengarkan radio dengan volume pelan.
"Kek, obat malam."
Kakek menatap tablet di telapak tangan Fikri, lalu wajah Fikri. Lama. Radio memainkan lagu lama berbahasa Bugis yang Fikri tidak mengerti.
"Halimah yang suruh?"
"Saya yang lihat strip-nya masih penuh."
Kakek mengambil tablet itu dan meminumnya. Ia tidak berterima kasih, tidak juga marah. Ia hanya kembali mendengarkan radio.
Tapi sebelum Fikri masuk kamar, kakek bicara lagi, tanpa menoleh.
"Besok tanam. Kakimu harus kuat. Tidur sekarang."
Di kamar, Fikri membuka grup kelasnya. Ada pesan baru: Fikri udah jadi petani belum? Ia memotret tangannya sendiri, kuku hitam berisi lumpur, lalu mengetik balasan. Ia menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Akhirnya ia keluar dari grup itu, dan tidur lebih nyenyak daripada minggu-minggu sebelumnya.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!