Buku Order Ibu
Ibu tidak pernah percaya pada aplikasi.
Bahkan setelah Bima membuatkan toko daring dan mengajarinya mencetak resi, Ibu tetap menulis setiap pesanan di buku tulis bergaris dengan pulpen hitam. Nama, alamat, jumlah bungkus, dan kadang catatan kecil di pinggir halaman: anaknya baru lulus, jangan terlalu asin, bayar minggu depan, orang baik.
Buku-buku itu sekarang tersimpan di dua kardus bekas mi instan di atas lemari garasi. Bima menurunkannya Selasa malam, setelah pesanan kedua dengan pita biru berangkat bersama Mas Anto, dan setelah kabar yang sama datang lagi sore harinya: rumah kosong, mbak bertopi, uang pas dalam amplop.
"Mas yakin mau baca semua?" tanya Tika. Ia duduk bersila di lantai, di antara tumpukan buku yang sampulnya mulai menguning. "Ini ada kali dua puluh buku."
"Kita cari nama Kenanga."
Mereka membagi tugas. Bima membaca dari tahun-tahun lama, Tika dari yang terbaru. Lampu garasi berdengung. Sesekali terdengar cicak.
Setengah jam kemudian, Tika berseru pelan. "Ketemu."
Sebelum itu, mereka sempat tersesat di kenangan. Tika menemukan halaman tahun 2012 dengan coretan krayon di pinggirnya, gambar matahari berkaki yang jelas buatan dirinya sendiri waktu TK. Bima menemukan catatan Bima demam, libur produksi 3 hari, lalu diam lama memandangi tulisan itu. Ia tidak ingat pernah demam selama itu. Yang ia ingat hanya Ibu duduk di tepi kasur sambil mengupas jeruk.
"Ibu nyatet semuanya, ya," kata Tika pelan.
"Semuanya yang penting," jawab Bima. Ia menutup buku 2012 dan menyisihkannya, tidak dimasukkan kembali ke kardus.
Tika kembali membaca. Dan tak lama kemudian ia mengangkat buku bersampul biru tua itu.
Ia menyodorkan buku bersampul biru tua dengan tulisan 2018 di depannya. Di halaman tanggal 6 Maret, dengan tulisan tangan Ibu yang condong ke kanan:
Pak Wir. Kenanga III/17. 2 bks. Pita biru.
Lalu satu minggu kemudian, tanggal 13 Maret, baris yang hampir sama. Lalu 20 Maret. Lalu 27 Maret.
"Tiap Selasa," kata Bima. Ia membalik halaman lebih cepat. "Tiap Selasa, dua bungkus, pita biru."
Mereka menelusuri mundur. Nama Pak Wir muncul di buku 2016, 2014, bahkan 2011. Kadang tiga bungkus menjelang Lebaran. Kadang ada catatan kecil di pinggir: istrinya sakit, bawa pulang nastar, dikasih.
Di buku 2019, halaman 17 Januari, catatannya lebih panjang dari biasanya:
Pak Wir. Kenanga III/17. 5 bks. Pita biru semua. Buat ulang tahun cucunya. Katanya cucunya paling suka yang dibungkus pita.
Bima membaca kalimat itu dua kali.
"Tujuh belas Januari," gumam Tika. "Tujuh belas lagi."
"Nomor rumahnya juga tujuh belas."
"Kebetulan?"
"Mungkin." Bima menutup buku itu, tapi jarinya tetap terselip di halaman tersebut. "Mungkin juga bukan."
Keesokan paginya, Tika memeriksa akun pembeli dengan lebih teliti. Nama akunnya wiryo57. Akun itu baru dibuat bulan ini. Belum pernah membeli apa pun di toko lain, belum pernah memberi ulasan. Satu-satunya alamat yang tersimpan adalah Kenanga Gang III Nomor 17.
"Semua chat-nya masuk antara jam sembilan sampai sembilan seperempat," kata Tika sambil menggulir riwayat percakapan. "Pertama, 09.12. Kedua, 09.10. Yang 'jendela biru' itu masuk 09.14."
"Orang tua biasanya bangun pagi."
"Iya, tapi kenapa nggak jam enam atau jam tujuh? Kenapa jam sembilan terus?" Tika mengetuk-ngetuk layar. "Terus kemarin dia bilang 'tadi antre obat'. Orang antre obat tiap pagi itu di mana, Mas? Apotek nggak ramai jam segitu."
Bima mengangkat bahu. Ia sedang menyegel kardus dengan selotip, dan suaranya berisik.
"Aku balas soal jendela biru, ya," kata Tika. "Biar dia nggak nunggu."
"Balas apa? Kita belum pernah lihat rumahnya."
"Justru itu." Tika mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Akhirnya ia mengirim:
Selamat pagi, Pak. Mohon maaf, kami belum pernah ke alamatnya, Pak. Kurir kami bilang jendelanya masih biru. Paketnya selalu diterima dengan baik.
Balasan datang tiga menit kemudian.
Syukurlah. Terima kasih, Nak. Dulu jendela itu saya cat sendiri, warnanya dipilih cucu saya. Katanya biru seperti pita kerupuk Ibu Sri.
Tika membacakannya keras-keras. Garasi mendadak terasa sangat sunyi.
"Mas," katanya, "Pak Wir ini nggak tahu rumahnya kosong."
"Atau dia tahu," kata Bima pelan, "dan dia nggak sedang mengirim kerupuk ke rumah."
Siang itu Mas Anto mampir untuk menjemput paket, lalu duduk sebentar di bangku depan garasi sambil minum es teh yang dibuatkan Tika.
"Mas Anto, amplop yang dipakai mbak bertopi itu, logonya apa?" tanya Bima.
"Kilat Ekspres, Mas. Yang warna oranye. Saya ingat karena itu saingan kantor saya." Mas Anto terkekeh. "Amplopnya amplop bekas surat jalan. Ada bekas cap tanggal di pojok."
"Terus mbaknya pakai seragam?"
"Nggak. Kaus hitam, topi hitam. Tapi larinya cepat sekali. Kayak orang yang sudah hafal gang itu." Mas Anto meneguk es tehnya sampai habis. "Kenapa, Mas? Mau saya tanya-tanya?"
"Mas Anto pernah lihat orang yang sama di kantor Kilat?"
"Kantor mereka banyak, Mas. Kurirnya ratusan." Mas Anto berdiri, merapikan tali keranjang. "Tapi saya bisa bilang satu hal. Orang yang pakai amplop surat jalan buat naruh uang itu biasanya orang yang tiap hari pegang amplop begitu. Bukan orang yang kebetulan nemu."
"Nggak usah dulu," kata Bima. "Takutnya dia malah berhenti datang."
Malamnya, Bima kembali ke kardus buku. Ia ingin tahu kapan nama Pak Wir terakhir muncul.
Jawabannya ada di buku 2020, halaman pertengahan Februari. Tulisan Ibu di halaman itu berbeda, lebih besar dan lebih menekan, seperti ditulis sambil terburu-buru:
Pak Wir pamit. Rumah mau dikosongkan. Titip pesan: kalau Rara datang beli kerupuk, tolong kabari Kakek di nomor
Lalu sederet angka. Atau seharusnya sederet angka. Separuh halaman bawah itu bergelombang dan pudar, bekas terkena air. Tinta hitamnya meleleh menjadi awan abu-abu. Hanya dua digit terakhir yang masih terbaca dengan jelas.
57.
Bima menyalakan senter ponsel dan mendekatkannya ke halaman. Di bawah noda air, ada satu baris lagi yang nyaris tidak terlihat, ditulis dengan pensil, bukan pulpen. Tulisan itu bukan tulisan Ibu.
Hurufnya bulat-bulat, seperti tulisan anak sekolah.
Maaf, Bu Sri. Rara belum berani.