Undangan dari Kupang
"Diam dulu, diam dulu! Bapak belum selesai baca!"
Pak Ruben mengangkat surat itu tinggi-tinggi, tetapi kelas dua sudah terlanjur meledak. Dua puluh satu anak berdiri di atas bangku, memukul meja, dan seorang anak laki-laki bernama Oktovianus sudah berlari keluar untuk memberi tahu kelas tiga sebelum siapa pun sempat melarangnya.
Surat itu datang pagi tadi lewat kantor kecamatan, di dalam amplop cokelat berlogo dinas. Isinya pendek. Gambar "Lautku" karya kelas dua dipilih untuk Pameran Seni Anak se-NTT di Kupang, tiga minggu lagi. Panitia menanggung tiket kapal cepat dan penginapan untuk satu guru pendamping dan satu murid perwakilan.
Satu murid.
Begitu kalimat itu dibacakan, kelas mendadak sunyi lagi. Dua puluh satu pasang mata saling melirik. Pak Ruben mengenali tatapan itu. Ia melihatnya tiga bulan lalu, waktu dua puluh satu anak mengerubungi satu batang pensil biru.
"Nah," katanya pelan. "Kita sudah pernah begini, kan?"
Kali ini anak-anak sendiri yang mengusulkan cara. Pemungutan suara, seperti pemilihan kepala desa yang baru lewat. Setiap anak menulis satu nama di sobekan kertas, dengan pensil warna baru kiriman ibu juri, lalu melipatnya dan memasukkannya ke kaleng biskuit bekas.
Ester yang menjadi panitia penghitung, karena tulisannya paling rapi. Ia membuka lipatan kertas satu per satu dan membacakan nama dengan suara lantang, sementara Oktovianus, yang sudah kembali dari kelas tiga, menulis garis-garis hitungan di papan tulis.
"Yeskiel."
"Yeskiel."
"Yeskiel. Yang ini tulisannya hijau."
"Yeskiel. Yang ini ada gambar ikannya."
Dua puluh kertas, dua puluh kali Yeskiel. Kertas terakhir, yang dilipat paling kecil, bertuliskan nama lain dengan huruf yang agak miring: Ester.
Ester memandang kertas itu lama, lalu memandang Yeskiel yang duduk di pojok dekat jendela dengan telinga merah.
"Lu pilih beta?"
"Lu yang gambar air mata," jawab Yeskiel. "Orang Kupang harus tahu kenapa ada air mata di laut kita."
Ester tidak menjawab. Ia hanya melipat kertas itu lagi, sangat rapi, dan menyimpannya di saku seragamnya, bukan di kaleng.
Kelas bertepuk tangan untuk Yeskiel. Yeskiel tersenyum, senyum yang lebar sekali dan jarang. Pak Ruben mencatat dalam hati bahwa ia harus mencari kemeja yang pantas untuk dipinjamkan kepada anak itu, dan sepatu, karena Yeskiel datang ke sekolah dengan sandal jepit yang talinya berwarna beda.
Ia belum tahu bahwa itu terakhir kalinya Yeskiel duduk di bangku pojok dekat jendela untuk waktu yang lama.
Keesokan harinya, bangku itu kosong.
Hari ketiga, masih kosong. Hari keempat, Ester yang membawa kabar, karena rumahnya di kampung pantai yang sama.
"Yeskiel ikut bapaknya di laut, Pak. Su musim panen rumput laut. Bapaknya bilang dia son sekolah dulu."
"Sampai kapan?"
Ester menggeleng. "Tahun lalu, kakaknya Yeskiel juga begitu. Ikut panen satu musim. Habis itu son pernah kembali sekolah lagi."
Pak Ruben memandang bangku kosong dekat jendela. Di laci bangku itu, ia tahu, masih ada buku gambar Yeskiel. Dan di laci mejanya sendiri, masih ada setumpuk gambar anak itu yang terlalu indah untuk ditempel di dinding lembap.
Sepulang sekolah, ia menyalakan motor bebeknya yang batuk-batuk dan berangkat ke pantai.
Kampung Yeskiel ada di ujung jalan berbatu karang yang membuat motor Pak Ruben berbunyi seperti kaleng diisi kerikil. Rumah-rumahnya beratap daun lontar, berdiri berjajar menghadap laut yang hijau toska di dekat pantai dan biru tua di kejauhan. Di pasir, ratusan tali panjang terbentang di atas para-para bambu, penuh rumput laut yang sedang dijemur, berbau asin dan amis dan sedikit manis.
Ia menemukan Yeskiel di bawah pohon ketapang, duduk bersila di atas terpal, di tengah gunungan tali dan keranjang bibit rumput laut. Tangan kecilnya bergerak cepat: ambil sejumput bibit, ikat di tali dengan simpul kecil, geser sejengkal, ambil lagi, ikat lagi. Jari-jarinya keriput karena air. Ia tidak menyadari kedatangan gurunya sampai bayangan Pak Ruben jatuh di atas tali.
"Pak," katanya. Tangannya berhenti. Lalu bergerak lagi, lebih cepat, seperti takut ketahuan berhenti.
Seorang lelaki bertubuh liat dengan kulit terbakar matahari keluar dari rumah. Bapa Yohanis, ayah Yeskiel. Ia menjabat tangan Pak Ruben dengan sopan, menawarkan kursi plastik dan segelas air, tetapi matanya sudah tahu kenapa guru itu datang.
"Guru," katanya sebelum Pak Ruben sempat bicara. "Beta tahu Guru mau bilang apa. Sekolah penting. Beta tahu."
"Bapa, Yeskiel terpilih ke Kupang. Pameran gambar. Teman-temannya sendiri yang pilih."
"Beta dengar." Bapa Yohanis memandang anaknya, lalu memandang laut. "Tapi Guru, harga rumput laut turun tahun ini. Kalau panen ini son selesai, kami son bisa bayar utang bibit. Kalau utang bibit son terbayar, musim depan son ada bibit. Kalau son ada bibit, son ada apa-apa." Ia menunjuk gunungan tali. "Seribu tali harus diikat sebelum air pasang besar, dua minggu lagi. Beta sendiri, son kuat. Mama Yeskiel su ke Kupang kerja jaga toko. Siapa yang ikat? Guru mau ikat?"
Pak Ruben tidak menjawab. Gaji honorernya tidak cukup untuk menyewa satu orang pengikat tali pun.
Bapa Yohanis tidak marah. Itu yang membuatnya lebih berat. Ia hanya lelah, dan lelah tidak bisa dibantah dengan surat dari dinas.
Waktu Pak Ruben pamit, Yeskiel mengantarnya sampai motor. Anak itu berjalan dengan kepala tertunduk, tangannya masih bau rumput laut.
"Pak," katanya pelan. "Kasih Ester sa yang pergi ke Kupang. Dia pintar bicara. Beta son bisa bicara di depan orang banyak."
"Teman-temanmu pilih kau, Yes."
"Beta tahu." Yeskiel menendang pasir. "Tapi bapak beta lebih perlu beta."
Ia merogoh saku celana pendeknya dan mengeluarkan kaleng permen kecil yang sudah berkarat di tepinya. Ia membukanya. Di dalamnya, di atas kapas, tergeletak pensil biru sepanjang kuku.
"Beta simpan di sini," katanya. "Supaya son hilang."
Lalu ia menutup kaleng itu dan memasukkannya kembali ke saku. Ia mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya Pak Ruben melihat sesuatu di mata anak itu yang belum pernah ia lihat di kelas: sesuatu yang mirip menyerah, tetapi lebih tenang, seperti orang dewasa.
"Pak," kata Yeskiel. "Kalau beta son kembali ke sekolah lagi, gambar-gambar beta di laci Pak Guru, boleh kasih ke adik-adik kelas satu, e? Sayang kalau son ada yang lihat."
Ia berbalik dan berlari ke bawah pohon ketapang, ke gunungan tali yang tidak pernah berkurang, sebelum Pak Ruben sempat menemukan satu kata pun untuk menjawabnya.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!