Korek Api Pak Tua
Ketukan di kaca jendela itu datang tiga kali, pelan, berjarak sama, seperti orang yang tidak terburu-buru.
Pak Burhan membuka mata. Jam di dasbor menunjukkan pukul dua lewat tujuh. Kapal Nusa Bahari sedang di tengah selat, kali ini arah pulang, dari Bakauheni ke Merak. Truknya kosong. Muatan kol sudah habis di Natar, dan besok pagi, Sabtu, ia akan menyetir ke Tangerang untuk menepati janji yang ia ucapkan di telepon dengan suara pecah.
Di dasbor, di sebelah termos kopi, ada truk-trukan plastik kuning yang ia beli di lapak mainan dekat Pasar Natar. Roda lengkap, empat-empatnya. Masih dalam plastik.
Ketukan itu datang lagi.
Di luar jendela berdiri seorang laki-laki tua. Kemeja flanel kotak-kotak, celana kain yang ujungnya dilipat, rambut putih disisir ke belakang dengan minyak rambut. Ia mengangkat sebatang rokok kretek yang belum menyala.
"Punya korek, Mas?"
Pak Burhan tidak langsung membuka jendela. Seminggu yang lalu, ia akan membukanya tanpa berpikir. Sekarang ia melirik ke spion, ke lorong di antara truk-truk, ke lampu kuning pucat yang sebagian masih mati.
Laki-laki tua itu menunggu dengan sabar. Napasnya tidak berasap, padahal dek bawah dingin.
Pak Burhan menurunkan kaca separuh dan menyodorkan korek gas dari saku bajunya.
"Makasih." Laki-laki itu menyalakan rokoknya, mengisapnya dalam, lalu mengembalikan korek itu. Jarinya menyentuh jari Pak Burhan sebentar. Dingin. Bukan dingin tangan orang tua. Dingin seperti besi lambung kapal pada pukul dua pagi.
"Bapak sopir juga?" tanya Pak Burhan. Suaranya sendiri terdengar terlalu biasa, seperti orang yang berusaha tidak membuat binatang buas kaget.
"Fuso hijau. Di depan, dekat rampa." Laki-laki itu menunjuk dengan dagu. "Muat semen dari Cilegon."
Pak Burhan tahu persis truk apa saja yang naik malam ini. Ia memperhatikannya saat antre di pelabuhan, kebiasaan dua puluh tahun. Tidak ada Fuso hijau. Di dekat rampa hanya ada dua truk boks ekspedisi dan sebuah mobil bak terbuka berisi kelapa.
"Mau pulang, Pak?"
"Mau." Laki-laki itu mengembuskan asap. Bau kretek dan solar memenuhi kabin. "Sudah lama mau. Tiap kali naik kapal ini, saya pikir, ah, malam ini sampai. Terus kapal merapat, saya masih di sini."
Mesin kapal berdengung rendah. Di lantai dek, genangan air laut bergoyang mengikuti ombak.
"Anak Bapak di mana?"
Laki-laki itu menoleh. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat Pak Burhan, dan matanya basah, keruh, seperti kaca jendela yang tidak pernah dilap.
"Kamu beruntung, Mas," katanya. "Anakmu yang kecil datang mencarimu. Anak saya tidak pernah datang. Dia marah sama saya. Malam itu, sebelum saya berangkat, dia bilang, Bapak nggak usah pulang sekalian." Ia tertawa kecil, tanpa suara. "Saya turuti. Nggak sengaja."
Pak Burhan merasa bulu kuduknya berdiri satu per satu, dari tengkuk sampai pergelangan tangan.
"Bapak tahu soal anak saya?"
"Semua yang tidur di dek bawah saling tahu." Laki-laki itu membuang abu rokoknya ke lantai. "Kita ini sejenis, Mas. Orang yang lebih nyaman di kabin truk daripada di rumah. Bedanya, kamu sudah nelepon. Saya belum sempat."
Ia mendekatkan wajahnya ke celah jendela. Bau kretek makin pekat.
"Saya titip satu kalimat," katanya. "Buat anak saya. Namanya Rahmat. Bilang sama dia, Bapak nggak marah soal motor itu. Bapak cuma takut dia jatuh di jalan, kayak teman-temannya. Bapak nggak pernah marah."
"Rahmat siapa, Pak? Rumahnya di mana?"
Laki-laki itu tersenyum. Giginya kuning oleh tembakau. "Dekat. Dia selalu dekat. Cuma nggak pernah duduk diam."
Kapal tiba-tiba oleng. Pak Burhan berpegangan pada setir. Lampu dek bawah padam semua, serentak, dan dalam gelap yang pekat itu ia hanya mendengar dua hal: dengung mesin dan suara orang batuk, batuk perokok tua, tepat di sebelah telinganya, di dalam kabin.
Lampu menyala lagi.
Di luar jendela tidak ada siapa-siapa.
Di spion kanan, di permukaan kacanya yang cembung, menempel abu rokok kretek yang masih berasap tipis.
Ia naik ke dek penumpang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Pak Burhan memanjat tangga besi itu dengan langkah cepat, tidak peduli punggungnya.
Di atas, lampu neon terang benderang. Televisi kecil memutar sinetron tanpa suara. Beberapa penumpang tidur melingkar di kursi plastik. Bau mi instan dan minyak kayu putih.
Di dekat pantry, awak kapal berseragam oranye yang dulu menyorotkan senter ke genangan air sedang menuang kopi ke dua gelas plastik. Ia menoleh dan mengenali Pak Burhan.
"Bapak yang minggu lalu," katanya. "Yang lihat anak kecil."
"Mas," kata Pak Burhan, napasnya belum teratur. "Ada Fuso hijau naik malam ini?"
Tangan awak kapal itu berhenti menuang.
"Kenapa Bapak tanya?"
"Ada bapak-bapak tua minta korek. Katanya sopir Fuso hijau, muat semen Cilegon."
Awak kapal itu meletakkan teko pelan-pelan di meja. Ia laki-laki berusia tiga puluhan, kulitnya terbakar matahari selat, matanya letih seperti orang yang terlalu lama bekerja malam.
"Lima belas tahun lalu," katanya, tanpa menatap Pak Burhan, "ada sopir Fuso hijau muat semen dari Cilegon. Tidur di kabin, di dek bawah. Serangan jantung. Nggak ada yang tahu sampai kapal merapat dan truknya nggak jalan-jalan, menghalangi rampa."
Ia mengambil salah satu gelas kopi dan memandanginya.
"Saya bikin dua kopi tiap malam," katanya. "Satu buat saya. Satu saya taruh di dek bawah, dekat rampa. Lima belas tahun. Nggak pernah ada yang minum."
Pak Burhan menatap gelas kedua itu, uap tipisnya naik pelan.
"Dia titip pesan," katanya. "Buat anaknya."
Awak kapal itu mengangkat kepala. Untuk sesaat, Pak Burhan melihat wajah yang sama dengan laki-laki tua di jendela: mata yang basah dan keruh, rahang yang sama, cara menahan napas yang sama.
"Dia sebut nama?" bisiknya.
"Rahmat."
Gelas kopi di tangannya jatuh. Cairan cokelat menyebar di lantai, menetes ke celah tangga besi, turun ke dek bawah.
Awak kapal itu tidak memungutnya. Ia hanya berdiri, dan di dada seragam oranyenya, di bawah logo perusahaan pelayaran, Pak Burhan baru membaca papan nama kecil yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.
RAHMAT.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!