Kucing yang Terkenal
Video itu berdurasi empat puluh tujuh detik, dan dalam tiga hari, seluruh kabupaten sudah menontonnya.
Tidak ada yang tahu siapa yang merekamnya. Pak Lurah Cibeber bersumpah demi ayam-ayamnya bahwa bukan dia. Bu Lurah Sukasari bilang ia bahkan tidak tahu cara merekam layar. Yang jelas, potongan rapat itu beredar dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp: Pak Darto berpidato tanpa suara, suara Mbak Rini terengah-engah dari dinding kosong, lalu Mbah Kus duduk di atas keyboard dan seluruh kecamatan mendengar seruan tentang keripik singkong.
Seseorang menambahkan tulisan di bawahnya: Kucing paling berjasa se-Jawa Barat.
Pak Darto mengetahuinya dari istrinya, yang mengetahuinya dari grup arisan, yang mengetahuinya dari keponakan seseorang yang bekerja di kantor kabupaten.
"Bapak terkenal," kata istrinya saat sarapan.
"Terkenal bagus atau terkenal malu?"
Istrinya memikirkannya lama sambil mengoles mentega di roti. "Terkenal lucu, Pak."
Pak Darto tidak yakin itu termasuk yang mana.
Akibat pertama datang hari Rabu, dalam bentuk Bu Yanti yang berdiri di pintu ruang lurah dengan buku tulis penuh coretan.
"Pak, pesanan keripik," katanya. "Dua ratus tiga puluh bungkus. Dari kabupaten, dari kota, ada yang dari Bandung. Ibu-ibu kelompok sudah menggoreng dari subuh. Singkong di pasar habis, Pak. Kita beli dari desa sebelah."
"Itu bagus, kan?"
"Bagus, Pak. Tapi kompor Bu RT meledak sedikit."
"Meledak?"
"Sedikit, Pak. Cuma alisnya Bu RT yang kena."
Akibat kedua datang hari Kamis, dalam bentuk surat dari kecamatan sebelah. Kop suratnya berwarna hijau tua, dan tanda tangan Camat Sindangwangi di bawahnya ditulis dengan tekanan yang begitu keras sampai kertasnya hampir sobek.
Menanggapi pernyataan Lurah Sukamaju dalam rapat koordinasi tanggal sekian, bahwa keripik singkong Sukamaju lebih renyah daripada keripik kecamatan sebelah, dengan ini kami menyampaikan keberatan. Keripik Sindangwangi telah menjuarai lomba pangan olahan tiga tahun berturut-turut. Kami menantang pembuktian terbuka.
Pak Darto membaca surat itu, lalu menatap Mbak Rini.
"Saya tidak bermaksud kecamatan Sindangwangi," katanya. "Saya cuma asal sebut. Waktu itu semangat."
"Pak," kata Mbak Rini sabar, "kecamatan sebelah kita cuma satu."
Akibat ketiga datang hari Jumat, dan akibat ini yang membuat Pak Darto berkeringat dingin.
Undangan resmi dari Bupati. Rapat Koordinasi Daring se-Kabupaten, Senin depan, pukul sembilan pagi. Dihadiri seluruh camat dan lurah, dan untuk pertama kalinya disiarkan langsung untuk masyarakat. Di bagian bawah, di lembar lampiran, ada satu baris yang Pak Darto baca berulang kali sampai matanya pedih:
Sesi Berbagi Praktik Baik: "Rapat Daring yang Efektif dan Komunikatif." Pemateri: Lurah Sukamaju. Durasi: 10 menit.
"Rapat daring yang efektif," ulang Pak Darto. "Saya?"
"Mungkin Pak Bupati punya selera humor, Pak," kata Mas Gilang, lalu buru-buru pergi memberi makan Mbah Kus ketika Pak Darto menoleh ke arahnya.
Malam itu Pak Darto menulis lagi. Kali ini enam halaman folio, bolak-balik. Judulnya Strategi Transformasi Digital Kelurahan Sukamaju. Isinya, sejauh yang bisa Mbak Rini pahami keesokan paginya, adalah daftar semua alat elektronik di kantor kelurahan, termasuk mesin fotokopi yang rusak sejak tahun lalu.
"Pak, sepuluh menit," kata Mbak Rini.
"Saya bacanya cepat."
"Pak, minggu lalu Bapak juga bilang begitu."
Maka dimulailah latihan. Setiap sore setelah jam pelayanan tutup, ruang lurah berubah menjadi ruang rapat kabupaten tiruan. Mbak Rini memegang stopwatch. Mas Gilang duduk di depan laptop kedua dengan peci hitam dan kumis dari selotip, memerankan Pak Bupati. Pak Sule memerankan "masyarakat yang menonton siaran langsung", yang dalam penafsirannya berarti makan kacang sambil berkomentar.
Latihan pertama: Pak Darto lupa menyalakan mikrofon. Mas Gilang, sebagai Pak Bupati, membuat gerakan menekan dengan telunjuk. Pak Darto mengangkat jempol.
Latihan kedua: Pak Darto ingat mikrofon, tetapi lupa mematikannya ketika selesai, dan seluruh "kabupaten" mendengarnya berkata, "Gilang, kumismu copot sebelah."
Latihan ketiga: Pak Darto memutuskan, setelah melihat Pak Lurah Mekarjaya, bahwa ia juga butuh latar belakang yang berwibawa. Ia memilih gambar Monumen Nasional. Setiap kali ia mengangguk, pecinya menghilang ke dalam Monas.
"Pak, pakai dinding saja," kata Mbak Rini. "Dindingnya sudah dicat Pak Sule."
"Peta Sulawesinya masih kelihatan sedikit," gumam Pak Sule.
Latihan keempat adalah yang terbaik. Pak Darto menyalakan mikrofon tepat waktu. Membaca pelan. Mematikan mikrofon di akhir. Sembilan menit empat puluh detik. Mbak Rini hampir menangis.
"Bapak siap," katanya.
Pak Darto mengangguk, lalu menatap tumpukan enam halaman folio di tangannya dengan wajah yang aneh. Seperti orang yang baru sadar sesuatu tetapi belum tahu apa.
"Rin," katanya. "Kalau nanti ada yang salah lagi…"
"Tidak akan ada yang salah, Pak. Laptop sudah dicas. Kuota sudah diisi. Mbah Kus akan dikunci di ruang arsip. Mas Gilang yang jaga."
"Saya jaga dengan nyawa saya," kata Mas Gilang, masih memakai setengah kumis.
Minggu malam, pukul sepuluh, Pak Sule mengetuk pintu rumah Pak Darto.
Ia masih memakai sarung dan membawa senter, dan di tangan satunya ada selembar kertas yang lecek, seperti sudah lama terselip di dalam saku.
"Pak Lurah," katanya. "Saya minta maaf dulu sebelum Bapak baca."
"Baca apa?"
"Ini surat datang hari Selasa. Saya taruh di saku seragam. Seragamnya saya cuci. Baru ketemu barusan, waktu istri saya menyetrika."
Pak Darto mengambil kertas itu. Kop suratnya berlogo petir. Sebagian tulisannya luntur, tetapi bagian yang penting masih terbaca dengan sangat jelas.
Pemberitahuan pemeliharaan jaringan. Pemadaman listrik wilayah Kelurahan Sukamaju. Senin, pukul 08.00 sampai 12.00.
Pak Darto menatap kertas itu. Lalu menatap Pak Sule. Lalu menatap jam dinding di ruang tamunya, yang jarumnya berdetak sangat keras di tengah malam yang sunyi.
Sebelas jam lagi, seluruh kabupaten akan menonton siaran langsung tentang rapat daring yang efektif.
Dan Kelurahan Sukamaju tidak akan punya listrik.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!