🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Episode 1 dari 1

Surat untuk Mama di Abepura

Surat yang Tidak Pernah Dikirim · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Yohana menulis surat itu di belakang lembar jadwal jaga, dengan pulpen biru yang tintanya mulai seret. Waktu itu pukul tiga pagi, bangsal penyakit dalam sedang tenang, dan satu-satunya bunyi hanya dengung kipas angin di pos perawat sebuah rumah sakit di Jakarta Timur.

Mama, tulisnya. Ko pasti marah karena sa jarang telepon.

Ia berhenti. Mencoret "ko". Menggantinya dengan "Mama". Lalu mencoret lagi semuanya dan memulai dari baris berikutnya. Begitu terus sampai kertas itu penuh coretan, dan yang tersisa hanya satu kalimat yang tidak dicoret: Sa capek, Mama.

Ia melipat kertas itu jadi kecil sekali, menyelipkannya ke dompet di balik foto KTP, lalu kembali mengukur tensi pasien di kamar empat.

Itu terjadi dua tahun lalu.


Sekarang Yohana duduk di ruang tunggu Bandara Sentani, menatap Danau Sentani dari jendela kaca yang berembun. Bukit-bukit hijau di seberang danau tampak seperti punggung binatang yang sedang tidur. Ia pulang karena Mama jatuh di pasar Abepura dan pergelangan tangannya retak. Kakaknya, Markus, yang menelepon.

"Mama bilang tra usah kasih tahu ko," kata Markus di telepon. "Tapi sa pikir ko perawat. Ko harus tahu."

Yohana mengambil cuti tiga hari. Atasannya mengizinkan dengan wajah masam, karena bangsal sedang kekurangan orang. Bangsal selalu kekurangan orang.

Markus menjemputnya dengan motor. Angin Jayapura yang lembap langsung menempel di kulit, membawa bau laut dan asap sate dari pinggir jalan. Di sepanjang jalan dari Sentani ke Abepura, Yohana melihat hal-hal yang dulu tidak pernah ia perhatikan: anak-anak sekolah berseragam yang berjalan bergerombol sambil tertawa, mama-mama yang menjual pinang di atas karung, papan nama gereja yang catnya baru.

"Ko kurus," kata Markus di lampu merah.

"Kerja," jawab Yohana.

"Kerja tra bikin orang kurus. Pikiran yang bikin orang kurus."


Mama duduk di kursi plastik di teras, tangan kirinya digendong kain. Begitu melihat Yohana turun dari motor, ia tidak bangun. Ia hanya melambai dengan tangan kanan, seperti Yohana baru pulang dari warung, bukan dari Jakarta setelah dua tahun.

"Anak perawat datang," katanya pada tetangga yang lewat. "Sekarang sa sudah aman."

Yohana memeriksa gips di tangan Mama. Pekerjaan dokter puskesmas itu rapi. Ia memeriksa jari-jari Mama satu per satu, menekan kukunya, memastikan darahnya mengalir dengan baik. Mama membiarkan saja, tapi matanya tidak lepas dari wajah anaknya.

"Ko tra tidur di sana, kah?" tanya Mama.

"Tidur, Mama."

"Bohong. Mata ko seperti mata ikan yang sudah dua hari di es."

Markus tertawa keras sekali sampai harus berpegangan pada tiang teras.


Malam itu Mama memaksa memasak papeda meski tangannya cuma satu. Yohana yang mengaduk sagu dengan air panas, Mama yang memberi perintah dari kursi. Kuah kuning ikan tongkol mendidih di panci, harum kunyit dan jeruk nipis memenuhi dapur.

"Putar terus, jangan berhenti. Kalau berhenti, dia menggumpal," kata Mama. "Hidup juga begitu."

"Mama mulai lagi."

"Sa cuma bilang papeda."

Mereka makan bertiga di lantai, seperti dulu ketika Bapak masih ada. Papeda digulung dengan dua garpu kayu, lalu dicelupkan ke kuah. Yohana tidak ingat kapan terakhir kali ia makan tanpa melihat jam.

Saat Markus pergi mengantar sisa kuah ke rumah tante di belakang, Mama bertanya pelan, "Ko mau bilang sesuatu ke sa?"

Yohana diam. Tangannya meraba dompet di saku celana. Kertas kecil itu masih di sana, di balik foto KTP, lipatannya sudah lunak seperti kain.

"Tra ada, Mama."

Mama tidak mendesak. Ia hanya menepuk lutut Yohana dua kali dengan tangan kanannya, lalu berkata, "Kalau sudah ada, bilang saja. Sa ini mama, bukan atasan."


Hari kedua, Yohana menemani Mama kontrol ke puskesmas. Di ruang tunggu, Mama memperkenalkannya kepada setiap orang: "Ini anak sa, perawat di Jakarta." Ia mengucapkannya dengan bangga yang begitu terang sampai Yohana malu sendiri. Seorang mama tua di kursi sebelah langsung menunjukkan kakinya yang bengkak dan bertanya apakah itu berbahaya. Yohana memeriksa sebentar, menyarankan agar ia memberitahu dokter, lalu mendengarkan cerita tentang cucunya yang kuliah di Bandung selama dua puluh menit.

"Ko lihat," kata Mama di perjalanan pulang. "Di mana-mana orang butuh perawat. Di sini juga."

"Mama mau sa pulang?"

"Sa mau ko bahagia. Kalau bahagianya di Jakarta, ya di Jakarta. Tapi jangan lupa jalan pulang."

Pagi terakhir sebelum kembali ke Jakarta, Yohana bangun lebih dulu. Ia membuka dompet, mengeluarkan kertas itu, dan membacanya di teras sementara burung-burung ribut di pohon mangga.

Sa capek, Mama.

Hanya itu. Tiga kata yang ia tulis di tengah malam dua tahun lalu, ketika ia baru saja kehilangan pasien pertamanya, seorang bapak tua yang selalu memanggilnya "suster manis". Waktu itu ia ingin menelepon Mama, tapi takut. Takut Mama khawatir. Takut Mama bilang, "Pulang saja." Takut dirinya sendiri akan menjawab, "Iya."

Mama keluar membawa dua gelas teh. Ia melihat kertas di tangan anaknya.

"Itu surat?"

Yohana mengangguk. Lalu, sebelum sempat berubah pikiran, ia menyerahkannya.

Mama membaca lama sekali untuk tiga kata. Kacamatanya ia naikkan, ia turunkan lagi. Lalu ia melipat kertas itu dengan satu tangan, pelan-pelan, dan menyimpannya di saku dasternya.

"Sa simpan," katanya. "Ini surat pertama dari ko yang sampai."

"Mama tra marah?"

"Marah karena anak sa capek? Sa marah kalau ko capek sendirian." Mama menyeruput tehnya. "Mulai sekarang, setiap Minggu malam, ko telepon. Tra usah cerita bagus-bagus. Cerita capek juga boleh."

Yohana tertawa, lalu menangis, lalu tertawa lagi sampai teh di gelasnya bergoyang.

Di bandara, sebelum masuk ruang tunggu, ia mengirim pesan pendek pada Markus: Bilang Mama, Minggu sa telepon.

Balasan datang cepat, dari nomor Markus tapi jelas ketikan Mama yang lambat dan tanpa huruf besar: mama tunggu. jangan lupa makan.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu