🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Kendi yang Dibawa Pergi

Kendi yang Tak Pernah Kosong · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

"Tidak dijual, Pak Haji," kata Bu Hasnah.

Haji Jafar tertawa, tawa orang yang terbiasa mendengar kata tidak sebagai awal tawar-menawar.

"Lima juta," katanya. "Tunai. Sekarang."

Fikri, yang sedang mengerjakan PR matematika di bangku warung, mengangkat kepala dan menatap ibunya dengan mata bulat. Lima juta adalah uang yang bisa membayar cicilan motor ayahnya enam bulan. Lima juta adalah sepatu baru, tas baru, dan mungkin ponsel bekas yang bisa dipakai belajar daring.

"Ini kendi peninggalan ibu saya," kata Bu Hasnah. "Lagi pula, Pak Haji, kendi ini tidak akan berguna untuk ladang Bapak."

"Kenapa tidak? Air ya air."

Bu Hasnah tidak tahu cara menjelaskan aturan kendi itu tanpa terdengar seperti orang yang kepanasan. Ia hanya menggeleng.

Haji Jafar berhenti tersenyum. Ia memandang kendi itu sekali lagi, lama, lalu kembali ke mobil bak terbukanya tanpa pamit.

Seminggu kemudian, Fikri demam.

Mula-mula hanya lemas dan tidak mau makan. Lalu panasnya naik, dan ia mulai muntah. Bidan desa datang, memeriksa, lalu berkata dengan wajah serius bahwa Fikri kekurangan cairan dan harus banyak minum, dikompres, dan dimandikan dengan air bersih dua kali sehari.

"Air bersih, Bu," ulang bidan itu. "Jangan pakai air endapan sumur. Bisa jadi itu sumber sakitnya."

Jatah air Selasa tinggal satu jeriken. Truk tangki baru datang lima hari lagi.

Malam itu, ketika Fikri tidur dengan napas panas di kasur tipis, Bu Hasnah duduk di dapur menatap kendi ibunya.

Ia tahu aturannya. Tuang untuk yang haus, jangan simpan untuk diri. Tapi Fikri bukan dirinya. Fikri anaknya. Fikri sedang sakit dan membutuhkan air. Bukankah itu yang paling haus dari semua yang haus?

Ia mengambil dua jeriken kosong dan mulai menuang.

Kendi itu memberi. Satu jeriken penuh, air dingin berbau tanah hujan. Bu Hasnah menghela napas lega dan mulai mengisi jeriken kedua. Untuk berjaga-jaga, pikirnya. Kalau Fikri butuh lebih. Kalau truk tangki terlambat. Kalau bidan menyuruh mandi tiga kali sehari.

Di tengah jeriken kedua, aliran dari cerat kendi melambat. Lalu menetes. Lalu berhenti.

Bu Hasnah mengguncang kendi itu. Kosong. Benar-benar kosong, untuk pertama kalinya sejak ia menemukannya. Leher kendi terasa hangat dan kering di tangannya, seperti tenggorokan orang yang kehausan.

Ia duduk di lantai dapur dengan satu setengah jeriken air di sebelahnya, dan merasa sangat bodoh.

Esoknya Fikri membaik sedikit. Bu Hasnah memandikannya dengan air kendi, mengompres dahinya, memberinya minum sedikit-sedikit tapi sering. Satu setengah jeriken itu cukup untuk tiga hari. Ia tidak menyesal memakainya untuk Fikri. Yang ia sesali adalah jeriken kedua, jeriken yang ia isi bukan karena Fikri haus, tapi karena ia takut.

Kendi itu tetap kosong. Bu Hasnah menaruhnya kembali di warung dan menuang air dari jatah Selasa ke dalamnya, sedikit, berharap bisa memancingnya hidup lagi. Air itu tetap air biasa, berkurang setiap kali dituang.

Malam ketiga, ketika Fikri sudah bisa duduk dan makan bubur, ia bertanya kenapa kendi Nenek tidak lagi dingin.

Bu Hasnah tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur anaknya, mengelus rambutnya yang masih lembap karena keringat demam.

"Mama yang salah," katanya akhirnya. "Kendi itu memberi air untuk yang haus. Mama mengambil lebih dari yang kau perlukan, karena Mama takut kehabisan. Kendi itu tahu bedanya."

Fikri berpikir lama, dengan kening berkerut seperti waktu ia mengerjakan soal cerita matematika.

"Berarti kendi Nenek marah?"

"Bukan marah," kata Bu Hasnah. "Kecewa, mungkin. Seperti Nenek dulu kalau Mama tidak mau berbagi jajan dengan sepupu."

Fikri tertawa kecil, lalu batuk. Bu Hasnah memberinya segelas air dari jeriken kedua, jeriken yang seharusnya tidak pernah ia isi, dan merasa air itu terasa lebih pahit dari yang seharusnya.

Anak-anak SD masih berhenti di depan warung setiap sore. Bu Hasnah masih memberi mereka minum dari kendi, sesedikit apa pun yang ia punya. Tapi kabar sudah keburu menyebar: kendi ajaib di warung Bu Hasnah sudah kering. Ada yang bilang karena Bu Hasnah menjual airnya diam-diam. Ada yang bilang kendi itu memang cuma cerita anak-anak sejak awal.

Pada malam keenam, Bu Hasnah terbangun karena suara di warung.

Ia mengambil senter dan berjalan pelan ke depan. Pintu warung terbuka. Toples kerupuk jatuh dan pecah di lantai. Di atas meja, di sebelah tempat toples itu tadinya berdiri, ada lingkaran bekas debu di tempat kendi biasa diletakkan.

Kendi itu hilang.

Di tanah di depan warung, tercetak jejak ban mobil, lebar dan dalam, yang mengarah ke dusun sebelah.

Bu Hasnah berdiri di ambang pintu warung dengan senter gemetar. Fikri muncul di belakangnya, masih pucat, memeluk bantal.

"Ma," katanya. "Kendi Nenek di mana?"

Bu Hasnah tidak menjawab. Ia tahu ke mana jejak ban itu mengarah. Ia juga tahu ia tidak punya bukti apa pun, dan bahwa Haji Jafar adalah orang yang menyumbang semen untuk masjid dusun mereka dan menggaji separuh lelaki di Oi Mbo sebagai buruh ladang.

Yang tidak ia tahu adalah apa yang akan terjadi pada kendi itu di tangan orang yang hanya ingin menyimpannya untuk diri sendiri.

Tiga hari kemudian, ia mendapatkan jawabannya. Seorang buruh ladang tembakau, anak muda bernama Arman yang dulu sering membeli es lilin di warung Bu Hasnah, datang subuh-subuh dengan wajah pucat.

"Bu," bisiknya. "Ibu harus lihat ladang Haji Jafar."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Berkebun Sayur di Lahan Sempit

Kebun sayur tidak harus punya halaman. Teras dua kali tiga meter, dinding pagar yang kena matahari pagi, atau sebaris botol bekas sudah cukup untuk memetik kangkung, sawi, selada,...

Rp25.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu