🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Pendap Delapan Jam

Resep yang Diwariskan · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Rendi sudah memutuskan: ia akan menjual pendap secara daring. Ia sudah membuat akun toko, sudah memotret daun talas di halaman belakang dengan cahaya jendela, sudah menulis keterangan produk yang menurutnya sangat meyakinkan: Pendap asli Bengkulu, resep nenek, siap kirim ke seluruh Indonesia.

Masalahnya, ia belum pernah membuat pendap.

Dan neneknya, Nek Juriah, tertawa begitu keras ketika mendengar rencana itu sampai harus berpegangan pada tiang dapur.


"Kau tahu pendap itu dimasak berapa lama?" tanya Nek Juriah, masih terkekeh.

"Satu jam?"

"Delapan jam."

Rendi terdiam. Ia membayangkan biaya gas, membayangkan dirinya menunggu di depan panci dari pagi sampai sore, membayangkan harga jual yang harus naik dua kali lipat.

"Kenapa lama sekali, Nek?"

"Karena bumbunya harus pindah rumah," jawab Nek Juriah. "Dari daun ke ikan, dari kelapa ke ikan, dari kecombrang ke ikan. Pindah rumah itu tidak bisa terburu-buru."


Nek Juriah tinggal di rumah kayu di dekat Pantai Panjang. Setiap pagi ia membeli ikan di tempat pelelangan, tawar-menawar dengan nelayan yang sudah ia kenal sejak mereka masih kecil. Untuk pendap, ia memilih ikan kakap atau tongkol yang masih kenyal.

Minggu itu, Rendi ikut. Ia memegang keranjang, Nek Juriah memegang kendali.

"Lihat matanya," kata Nek Juriah, menunjuk ikan di meja nelayan. "Matanya masih bening. Insangnya merah. Kalau ditekan, dagingnya kembali. Ini ikan yang masih ingat laut."

Nelayan itu, seorang bapak berkulit legam bernama Wak Darman, tertawa. "Nenekmu ini dari dulu pembeli paling cerewet di pelelangan."

"Cerewet supaya pendapku tidak malu-maluin," balas Nek Juriah.


Di dapur, Nek Juriah menyiapkan bumbu: kelapa parut muda, cabai merah, bawang merah, bawang putih, kunyit, serai, jahe, lengkuas, dan kecombrang yang diiris halus. Semua ditumbuk di lesung batu, bukan diblender.

"Blender bikin bumbunya terlalu halus," jelasnya. "Pendap butuh bumbu yang masih punya tekstur, supaya terasa waktu digigit."

Rendi menumbuk sampai lengannya pegal. Bunyi alu di lesung memenuhi dapur, berirama dengan suara ombak yang terdengar samar dari pantai.

Lalu daun talas. Nek Juriah memilih daun yang lebar dan muda, mencucinya, lalu menyusunnya berlapis-lapis. Ikan yang sudah dilumuri bumbu diletakkan di tengah, ditutup lagi dengan bumbu kelapa, lalu dibungkus rapat-rapat dengan daun talas, berlapis, lalu dibungkus lagi dengan daun pisang dan diikat.

"Kenapa daun talas, Nek? Tidak gatal?"

"Gatal kalau dimasak sebentar. Makanya delapan jam." Nek Juriah mengikat bungkusan dengan tali rafia. "Lama-lama gatalnya hilang, daunnya lembut, bisa dimakan. Talas itu seperti orang yang galak di awal. Kalau sabar, nanti baik."


Bungkusan-bungkusan pendap dikukus di panci besar di atas tungku kayu bakar. Nek Juriah tidak memakai kompor gas untuk ini.

"Api kayu itu sabar," katanya. "Api gas itu terburu-buru, seperti orang kota."

Rendi duduk di bangku kecil di depan tungku, sesekali menambah kayu. Satu jam berlalu. Dua jam. Ia mulai bosan, membuka ponsel, melihat akun tokonya yang belum punya satu pun pesanan.

Nek Juriah duduk di sebelahnya, mengupas pinang.

"Kau mau jual pendap supaya apa?" tanyanya tiba-tiba.

"Supaya dapat uang, Nek. Kerja di kota susah dapat."

"Itu bagus. Tapi kalau cuma untuk uang, kau akan menyerah di jam ketiga." Nek Juriah tersenyum. "Pendap ini dulu dimasak untuk orang yang mau pergi jauh. Bisa tahan berhari-hari, tidak basi. Nelayan bawa ke laut. Anak bawa ke perantauan. Itu makanan untuk orang yang dicintai tapi harus pergi."

Rendi terdiam. Ia teringat pertama kali ia berangkat ke Jakarta, lima tahun lalu. Di tasnya ada bungkusan daun yang ia buka di kos dan ia makan sambil menangis diam-diam. Ia tidak pernah tahu itu pendap buatan neneknya yang dimasak semalaman.

"Nek yang buat itu?"

"Siapa lagi?"


Jam keenam, aroma pendap mulai memenuhi rumah. Wangi kecombrang, kelapa, dan ikan yang matang pelan-pelan. Tetangga sebelah melongok dari jendela. "Nek Juriah masak pendap? Ada acara?"

"Cucuku mau belajar jualan," jawab Nek Juriah dengan bangga.

Jam kedelapan, bungkusan pertama dibuka. Daun talas sudah lembut dan gelap, menyatu dengan bumbu. Ikan di dalamnya empuk, bumbunya meresap sampai ke tulang. Rendi mencicipi, lalu terdiam lama.

"Ini rasa yang aku makan di kos dulu," katanya pelan.

"Bukan," koreksi Nek Juriah. "Itu rasa yang kau makan di kos dulu, ditambah sedikit rindu. Ini cuma pendap."

Malam itu mereka makan pendap bertiga dengan tetangga sebelah, dengan nasi hangat dan sambal. Nek Juriah makan sedikit, lebih banyak memandangi cucunya makan. Setelah semua kenyang, ia mengeluarkan buku tulis tua dari lemari, sampulnya sudah lepas, halamannya menguning.

"Ini catatan pesanan Nek dulu," katanya. "Waktu masih jualan di pasar. Siapa pesan berapa, siapa belum bayar, siapa minta tidak pedas."

Rendi membaca halaman-halamannya. Ada nama-nama pelanggan yang ditulis dengan pensil, angka-angka yang dicoret dan ditulis ulang, dan di pinggir halaman, catatan kecil: Bu Rosna, anaknya di Palembang, kirim lewat bus. Pak Kadir, untuk melaut tiga hari.

"Nek sudah jualan ke luar kota dari dulu," kata Rendi takjub.

"Nek sudah, kau saja yang baru tahu," jawab Nek Juriah.


Rendi tetap membuka toko daringnya. Tapi ia mengubah keterangan produknya. Ia menghapus siap kirim ke seluruh Indonesia dan menggantinya dengan cerita: tentang delapan jam, tentang api kayu, tentang makanan untuk orang yang dicintai tapi harus pergi.

Pesanan pertama datang tiga hari kemudian, dari seorang ibu di Tangerang yang anaknya kuliah di Yogyakarta.

Saya mau kirim ke anak saya, tulisnya. Dia orang Bengkulu tapi belum pernah makan pendap buatan sendiri. Bisa ditambah catatan kecil?

Rendi menulis catatan itu dengan tangan, di kertas cokelat, lalu menyelipkannya di dalam kotak: Dimasak delapan jam. Makan pelan-pelan. Ada yang menunggumu pulang.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu