Cengkih di Saku Kemeja
Setiap musim panen cengkih, Om Hasan selalu menyelipkan satu kuntum cengkih kering di saku kemejanya. Katanya supaya badan wangi. Tapi Fitri, cucunya yang baru kelas dua SMA, tahu alasan sebenarnya dari tante-tantenya: dulu, waktu masih muda, Om Hasan pernah berjanji pada seseorang bahwa ia akan selalu membawa wangi kebun Ternate ke mana pun ia pergi.
Orang itu bernama Rahmi. Dan Om Hasan tidak pernah pergi ke mana-mana.
Rumah mereka berdiri di lereng Gamalama, di antara pohon cengkih dan pala yang lebih tua dari kakek siapa pun di kampung. Dari teras, laut terlihat seperti kain biru yang dibentangkan sampai ke Tidore, dan gunung di belakang selalu mengintip dengan puncak berawan.
Sore itu Fitri sedang menjemur cengkih di atas terpal ketika Om Hasan memanggilnya ke ruang tengah. Di atas meja ada kotak kayu kecil berukir yang biasanya terkunci di lemari.
"Ko pandai mengetik di handphone, toh?" tanya Om Hasan.
"Pandai, Om."
"Bagus. Om mau ko cari orang."
Di dalam kotak itu ada setumpuk amplop. Semuanya ditujukan ke alamat yang sama di Makassar, semuanya ditulis dengan tulisan tangan miring yang rapi, dan tidak satu pun berprangko.
"Om tulis setiap tahun," katanya. "Tapi tra pernah Om kirim."
Fitri menghitung. Ada empat puluh tiga amplop.
Ceritanya keluar sedikit demi sedikit selama beberapa sore, di antara bunyi cengkih kering yang dibalik dengan garu kayu. Rahmi anak guru dari Makassar yang dulu mengajar di SMP di Ternate. Mereka berteman, lalu lebih dari berteman. Ketika ayah Rahmi pindah tugas kembali ke Makassar, Hasan muda berjanji akan menyusul setelah panen.
"Lalu Om tra pergi?"
"Bapak sakit. Om anak laki-laki satu-satunya. Kebun tra ada yang urus." Om Hasan memandang laut. "Om pikir tahun depan. Lalu tahun depannya lagi. Lalu Om dengar dia sudah menikah."
"Terus kenapa Om tetap tulis surat?"
Om Hasan tersenyum. "Karena Om belum selesai bilang terima kasih."
Fitri mencari di media sosial dengan nama lengkap Rahmi yang tertulis di amplop paling bawah, ditambah nama sekolah ayahnya. Butuh tiga hari dan banyak salah orang sebelum ia menemukan sebuah akun milik perempuan muda di Makassar yang mengunggah foto neneknya sedang membuat barongko. Di keterangan foto tertulis: Nenek Rahmi, 74 tahun, masih paling jago bungkus pisang.
Fitri mengirim pesan dengan sangat hati-hati. Ia menjelaskan siapa dirinya, siapa Om Hasan, dan bahwa kakeknya hanya ingin menyampaikan satu surat. Jika tidak berkenan, tidak apa-apa.
Balasan datang dua hari kemudian, ketika Fitri sudah hampir lupa.
Nenek ingat. Nenek tertawa lama sekali waktu kami sebut nama Hasan. Nenek bilang, "Itu anak yang selalu bau cengkih." Boleh kirim suratnya.
Om Hasan memilih satu amplop saja. Bukan yang pertama, bukan yang terakhir. Yang ia pilih ditulis tahun ketika Fitri lahir.
"Yang ini paling jujur," katanya. "Waktu itu Om baru jadi kakek. Om sudah tra marah lagi pada hidup."
Mereka mengirimnya lewat kantor pos di dekat pelabuhan. Petugasnya, seorang ibu berkerudung hijau, menimbang amplop itu dan mengernyit melihat tanggal di pojok kiri atas.
"Ini surat lama, Om?"
"Surat lama, alamat lama, orangnya masih sama," jawab Om Hasan.
Sebelum amplop itu dimasukkan ke karung, Om Hasan mengambil sesuatu dari saku kemejanya dan menyelipkannya ke dalam: satu kuntum cengkih kering.
Selama menunggu balasan, Om Hasan menjadi orang yang paling sering bertanya kepada tukang pos di kampung. Setiap pagi ia duduk di teras lebih awal dari biasa, pura-pura membaca koran, padahal matanya terus ke ujung jalan. Fitri menggodanya, "Om seperti anak SMA tunggu surat dari pacar."
"Om memang pernah jadi anak SMA yang tunggu surat dari pacar," jawabnya tanpa malu. "Bedanya, dulu suratnya tra pernah datang karena Om tra pernah kirim duluan."
Tiga minggu kemudian datang paket dari Makassar. Isinya sekotak kue barongko yang sudah agak penyok di perjalanan, dan selembar kertas bergaris. Tulisannya tegak dan agak gemetar.
Hasan,
Suratmu sampai. Wanginya juga sampai, meskipun cengkihnya sudah patah dua.
Aku tidak pernah marah karena kau tidak datang. Aku tahu bapakmu sakit. Aku sudah menikah dengan orang baik, punya anak lima dan cucu sebelas. Hidupku cukup. Semoga hidupmu juga.
Terima kasih sudah ingat. Itu saja yang perlu kita katakan setelah setua ini.
Rahmi.
Fitri membacakan surat itu keras-keras di ruang tengah, karena mata kakeknya sudah tidak kuat membaca tulisan kecil. Ia membaca pelan-pelan, berhenti di setiap titik, seperti membacakan pengumuman penting di sekolah. Tante-tantenya berkumpul di pintu dapur, pura-pura sibuk mengupas bawang. Tidak ada yang bersuara sampai kalimat terakhir selesai dibaca.
Om Hasan membaca surat itu sekali, melipatnya, dan menyimpannya di kotak kayu bersama empat puluh dua amplop lain yang tidak dikirim. Lalu ia membagi barongko itu ke semua orang di rumah, termasuk tetangga sebelah yang kebetulan lewat.
Malamnya Fitri melihat kakeknya duduk di teras, memandang laut ke arah Tidore. Untuk pertama kalinya, saku kemejanya kosong.
"Om tra pakai cengkih lagi?"
Om Hasan menepuk saku itu. "Janji sudah lunas," katanya. "Sekarang Om cuma bau orang tua biasa."
Fitri tertawa, lalu duduk di sebelahnya. Di kejauhan, lampu-lampu perahu nelayan berkelip satu per satu, seperti surat-surat kecil yang akhirnya dikirim ke laut.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!